Pages

iGeneration: Tantangan dan Solusinya dalam Pendidikan

syamsul ma'arif Sabtu, Oktober 01, 2016 |


Pendahuluan
Kalau kita perhatikan siswa-siswi yang saat ini kita didik, ditangan mereka pasti ada smartphone , di telinga mereka terselip headset, dan jari mereka tak pernah lepas dari keypad smartphone. Mereka itulah anak-anak iGeneration atau disebut juga dengan istilah Generasi Z, Generasi Net atau Generasi Internet. Generasi ini adalah generasi yang lahir antara tahun 1995 sampai tahun 2010. Sebagaimana dalam teori generasi (Generation Theory) hingga saat ini dikenal ada 5 generasi, yaitu: (1) Generasi Baby Boomer, lahir 1946-1964, (2) Generasi X, lahir 1965-1980, (3) Generasi Y, lahir 1981-1994, (4) Generasi  Z, lahir 1995-2010, dan (5) Generasi Alpha, lahir 2011-2025
iGeneration terlahir dari generasi X dan Generasi Y. Generasi ini sejak lahir sudah akrab dengan teknologi. Artinya, teknologi sudah menjadi bagian dari hidup mereka sejak mereka lahir ke dunia. Jadi, jangan heran jika anak-anak dari iGeneration sangat mahir menggunakan teknologi apa pun. Generasi ini berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya. Perbedaan paling tampak adalah ketertarikan iGeneration kepada perangkat gadget di usia yang masih sangat muda. Ibaratnya, anak-anak iGeneration ini sudah sejak dalam perut Sang Ibu “mengenal” gadget . Setelah lahir pun, Sang Ibu asyik menyusui pun sambil browsing  dan aktif di social media (sosmed).
Menurut sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2013 jumlah iGeneration didunia sekitar 1,9 milyar jiwa atau sekitar 27 persen dari jumlah penduduk dunia. Mayoritas dari jumlah tersebut merupakan penduduk negara miskin dan negara berkembang. Indonesia menempati posisi ke empat setelah India, China, dan Nigeria dengan jumlah sekitar 64,8 juta jiwa atau sekitar 3.5 persen dari total iGeneration dunia.

Karakteristik iGeneration
iGeneration memiliki karakteristik perilaku dan kepribadian yang berbeda dengan generasi sebelumnya.  Beberapa karakteristik umum dari generasi ini adalah:
1.        Melek Teknologi. Bagi iGeneration, teknologi adalah dunianya. Jika dianalogikan seperti oksigen untuk bernapas. Pandangan mereka seakan tidak lepas dari perangkat elektronik. Bahkan, buku teks bisa dibilang tidak berarti di mata iGeneration. Kebiasaan ini tak lepas dari pesatnya teknologi yang bisa diakses dalam satu gadget saja. Meski masih kecil, mereka bisa mengakses pelbagai informasi dengan mudah dan cepat melalui internet dan perangkat elektronik lainnya. Orang tua masa kini kadang lebih memilih membelikan anak-anak gadget canggih yang terkoneksi dengan internet. Bagi mereka, lebih baik anak-anak mereka diam dengan gadget dan berada di rumah dibandingkan main ke luar tanpa pengawasan.
2.        Medsos sebagai sarana bersosialisasi. Mereka sangat intens berkomunikasi dan berinteraksi dengan semua kalangan, khususnya dengan teman sebaya melalui berbagai situs jejaring sosial, seperti: Facebook, twitter, instagram, BBM, Whats App atau  melalui SMS. Melalui media ini, mereka bisa mengekspresikan apa yang  dirasakan dan dipikirkannya secara spontan. Mereka juga cenderung toleran dengan perbedaan kultur dan sangat peduli dengan lingkungan. Bahkan mereka berkelompok sesuai dengan minat dan kesenangannya dengan membuat group-group komunitasnya.
3.        Multitasking.  Yang unik dari generasi ini, mereka terbiasa dengan berbagai aktivitas  dalam satu waktu yang bersamaan atau multitasking. Mereka bisa membaca, berbicara, menonton, atau mendengarkan musik dalam waktu yang bersamaan. Mereka menginginkan segala sesuatunya dapat dilakukan dan berjalan serba cepat. Mereka tidak menginginkan hal-hal yang bertele-tele dan berbelit-belit. Mereka sangat menyukai persoalan-persoalan yang membutuhkan pengambilan keputusan yang cepat. Misalnya, mencari tugas sekolah melalui internet.
4.        Egosentris/Individualis. Generasi ini bersikap egosentris dan individualis. Mereka menginginkan hal-hal yang instan, kurang menghargai proses, cepat marah dan tidak sabaran. Mungkin IQ mereka tinggi dan berkembang baik, namun, EQ mereka menjadi jongkok. Mereka tidak lagi peduli dengan keadaan di sekitar mereka. Mereka masih terlalu asyik dengan gadget dan fokus pada permainan yang mereka lakukan. Seakan mereka hidup dalam dunia mereka sendiri. Merurut Andrianto (2011) bahwa  anak iGeneration cenderung berkurang kemampuannya dalam komunikasi secara verbal.
5.        Lebih Memilih Game online daripada Permainan Tradisional. Generasi Net hanya akan merasakan kesenangan melalui permainan digital melalui games online, atau permainan dari gadget yang mereka miliki. Permainan tradisional yang dulu sering dilakukan anak-anak seperti lompat tali, petak umpet dan permainan lainnya tidak lagi dirasakan oleh generasi ini. Padahal dalam permainan tersebut ada nilai-nilai karakter yang dapat anak pelajari. Diantaranya anak dapat belajar bersosial, saling kerjasama, dan percaya diri. Situasi ini turut didukung dengan minimnya ketersedian lahan terbuka bagi permainan anak-anak. Utamanya di kota, kita jarang dapati area terbuka hijau baik di kompleks perumahan ataupun di tengah kota sebagai ruang bermain anak. Maka sudah tepat jika pemerintah punya program nasional Kabupaten/Kota Layak Anak yang dilombakan setiap tahun.

Digital Immigrants Vs Digital Natives
Dalam dunia pendidikan tingkat menengah saat ini minimal ada dua generasi yang berbeda yang terlibat secara aktif. Generasi yang lahir sebelum tahun 1990 an dan mereka yang lahir setelah tahun 2000.
Generasi yang lahir pada tahun sebelum 1990 disebut dengan generasi X dan Y. Dalam hal ini mereka berperan sebagai pendidik dan  tenaga kependidikan pada lembaga-lembaga pendidikan. Generasi X dan Y ini tidak dilahirkan pada masa digital/kemajuan teknologi tetapi mereka di wajibkan dan dituntut untuk siap, mampu dan tidak buta dengan pemanfaatan teknologi digital. Bahkan mereka juga dituntut untuk mampu mengoperasikan teknologi-tehnologi canggih dalam kehidupan ini karena tuntutan kerja atau kebutuhan hidupnya. Menurut Prensky (2001) kelompok generasi ini disebut Digital Immigrants.
               Adapun kelompok generasi kedua yang aktif dalam dunia pendidikan tingkat menengah saat ini adalah generasi Z yang juga disebut dengan istilah Net  Generation atau iGeneration. Kelompok kedua ini saat ini menjadi peserta didik dilembaga-lembaga pendidikan baik formal atau non formal. Masih menurut Prensky (2001) generasi ini dinamakan Digital Natives. Generasi ini sejak lahir tumbuh kembang dengan teknologi baru ini . Perjalanan  kehidupan  mereka dikelilingi dengan  penggunaan komputer , video game, digital player , Camera  video, smart phone, media sosial, internet, game online dan alat-alat digital lainya . Bagi mereka dunia ini tidak lengkap tanpa adanya internet. Generasi ini sudah terbiasa dengan penggunaan semua alat-alat tehnologi yang canggih ini.
Seiring dengan perkembangan teknologi dan media informasi yang semakin pesat, pendidikan sebagai investasi masa depan generasi bangsa harus bisa menyesuaikan diri. Semisal guru-guru, sebagai digital immigrants, dituntut untuk dapat memanfaatkan era digital ini sebagai media pembelajaran bagi siswa di madrasah dan sekolah, bahkan pesantren. Akses informasi di era digital ini memungkinkan siswa lebih mengetahui informasi terlebih dahulu ketimbang guru. Tentu hal ini tidak akan membuat guru menjadi ketinggalan dibanding siswanya, karena keberadaan guru di kelas dan lingkungan sekolah lebih kepada memfasilitasi siswa untuk belajar.
iGeneration dengan karakteristik yang unik tersebut tentu saja memiliki pengaruh baik positif atau negatif. Agar pendidikan dan pembelajaran di sekolah/madrasah berhasil maka mereka tidak bisa dididik dengan cara bagaimana guru-gurunya dididik  dulu.  Ali Bin Abi Tholib pernah berkata:  أولادكم خلقوا لزمان غير زمانكم فلا تقصروهم على عاداتكم           
artinya Anak-anakmu itu diciptakan untuk hidup di jamannya bukan jamanmu maka jangan dipaksa mereka mengikuti kebiasaanmu dulu. Berikut ini empat solusi yang bisa di terapkan untuk menghadapi iGeneration dalam dunia pendidikan; (1) penguatan pendidikan agama, (2) Parenting, (3) Pembelajaran Interaktif dengan pemanfaatan IT, dan (4) Pendidikan Generasi Masa Depan
Penguatan Pendidikan Islam sejak Dini
Pendidikan merupakan faktor yang dapat dijadikan sebagai jaminan bagi pengembangan sumber daya manusia, agar iGeneration dapat menghadapi tantangan global dengan era digital informasi. Demikian pula pendidikan Islam yang lebih cenderung membawa misi religiusitas pun juga harus ikut berperan di dalamnya. Dengan membekali para peserta didiknya dengan kekuatan keimanan, ketakwaan, ilmu pengetahuan, dan ketrampilan yang berimbang sehingga dapat membawa para peserta didik tersebut pada kondisi yang siap menghadapi segala tantangan era informasi (globalisasi).
Disamping itu, pendidikan Islam merupakan upaya pengejawantahan nilai-nilai al-Qur’an dan Hadits, artinya bahwa tujuan pendidikan Islam berupaya menjadikan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah swt yang di berikan kepadanya amanat sebagai ‘abd dan juga menjadi khalifah di muka bumi. Wahid (2011) menyatakan bahwa secara lebih khusus, pendidikan Islam bermaksud untuk :
1.        Memberikan pengajaran al-Qur’an sebagai langkah pertama pendidikan.
2.        Menanamkan pengertian-pengertian berdasarkan pada ajaran-ajaran fundamental Islam yang terwujud dalam al-Qur’an dan as-Sunnah dan bahwa ajaran-ajaran tersebut bersifat abadi.
3.        Memberikan pengertian-pengertian dalam bentuk pengetahuan dan skill dengan pemahaman yang jelas bahwa hal-hal tersebut dapat berubah sesuai dengan perubahan yang ada dalam masyarakat dan dunia.
4.        Menanamkan pemahaman bahwa ilmu pengetahuan tanpa basis iman adalah pendidikan yang tidak utuh dan pincang.
5.        Menciptakan generasi yang memiliki kekuatan baik dalam keimanan maupun penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
6.        Mengembangkan manusia islami yang berkualitas tinggi yang diakui secara universal.
Dengan penguatan pendidikan islam di lingkungan keluarga dan sekolah maka anak-anak iGeneration akan lebih bisa mengontrol diri dalam kehidupannya. Mereka akan dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang boleh dan mana yang menjadi larangan agama.
Smart Parenting
Peran orang tua dalam mendidik iGeneration sangat penting. Anak lebih banyak menghabiskan waktu dan aktifitasnya  dirumah dan lingkungan tempat tinggalnya. Dalam konteks penggunaan internet, penggunaan teknik-teknik pendekatan yang tepat oleh orang tua akan sangat membantu peran dan cara menghadapi anak, khususnya dari generasi net ini. Beberapa cara dan peran berikut ini, kiranya bisa dimainkan para orangtua.
  1. Orangtua memberi pengertian kepada anak, tentang situs dan konten mana yang boleh diakses oleh anak dan mana saja yang tidak boleh. Untuk anak-anak ini, hemat saya masih memerlukan pendampingan dari orangtua dalam hal penggunaan internet. Mereka  boleh saja diberi kebebasan terbatas untuk mengakses internet, namun tetaplah dengan batasan-batasan situs dan konten internet mana yang boleh diakses;
  2. Orangtua melakukan pengawasan/pembatasan yang ketat juga perlu dilakukan oangtua, misalanya dengan penggunaan aplikasi pembatas situs porno (software filter) atau search engine khusus bagi anak atau computer ditempatkan diruang terbuka yang bisa dilihat semua anggota keluarga.
  3. Orangtua tetap dituntut bersikap tegas, namun tetap lembut dan kesabaran;
  4. Orangtua mengeksekusi character building dan atau pendidikan nilai secara terus menerus, dengan penuh cinta untuk mengimbangi derasnya pengaruh negatif dari internet;
  5. Orangtua membangun dialog – komunikasi yang terbuka serta menjamin kehadiran diri secara utuh dan perhatian yang terus-menerus;
  6. Seiring dengan semakin canggihnya smart phone dan HP android saat ini, orang tua dituntut bisa mengikuti perkembangannya terutama dalam mengoperasikan aplikasi-aplikasi dasar agar bisa melakukan pengecekan secara berkala dalam rangka memberikan pengawasan dan kontrol terhadap apa saja yang telah diakses oleh anak-anak.
  7. Orangtua perlu juga mengasah dan meningkatkan kompetensi diri:dalam hal pendidikan dan pendampingan bagi anak-anaknya, misalnya dengan rajin membaca buku-buku parenting, mengikuti seminar maupun pelatihan-pelatihan pengembangan diri, khususnya yang bertema psikologi atau parenting dan komunikasi efektif. Dalam hal ini sudah banyak kegiatan-kegiatan parenting yang dilakukan di madarasah/ sekolah.
Pembelajaran Interaktif dengan pemanfaatan IT
Anak-anak iGeneration merupakan generasi yang cerdas dalam hal tehnologi. Pendidik/guru dituntut untuk mampu mengikuti perkembangan IT dan mengintegrasikan dalam proses pembelajarannya. Metode ceramah yang banyak dipakai oleh guru selayaknya dikurangi dan dikombinasikan dengan pemanfaatan multimedia dalam penyampaian materi pelajaran. Pembelajaran dengan berpusat pada siswa (students-centered) akan lebih efektif dan menyenangkan karena peserta didik dapat tertantang untuk lebih aktif. Disamping itu, peserta didik dapat menggali informasi dan pengetahuan dari berbagai sumber terutama internet sebanyak mungkin. Dalam hal ini guru berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan siswa dari kesimpulan yang salah.
Siswa di generasi net tidak dapat terlepas dari smart phone nya.  Dalam hal ini guru bisa memanfaatkan jejaring sosial yang akrab dengan siswa seperti facebook, twitter, whats app dan instagram  untuk menjadi media dan sarana pembelajaran.  Menemukan cara kreatif dengan memanfaatkan teknologi baik di dalam dan di luar kelas bisa menjadikan kegiatan pembelajaran akan lebih menarik dibanding cara konvensional.  
Siswa-siswi generasi net ini memiliki gaya hidup digital yang kuat, mereka terbiasa dengan multitasking tetapi. Beberapa penelitian menemukan bahwa siswa-siswi iGeneration ini memiliki tingkat konsentrasi/perhatian yang pendek. Guru dituntut untuk  dapat mengubah pendekatan pembelajaran sesering mungkin. Pembelajaran dengan metode yang membosankan akan cenderung tidak diperhatikan oleh siswa.  Mereka lebih senang dengan pembelajaran aktif. Pendekatan pembelajaran berbasis proyek dan penugasan lebih menarik bagi mereka karena mereka dapat mengeksplorasi pengetahuan baru sebanyak banyaknya. 
Guru/ Pendidik Menyiapkan Generasi Masa Depan

Leadership is the relationship in which one person , The leader infeneens other to work together willingly on related task to attain that which the leader diseres. (George Terry)
James M Kouzen dan Barry Z Posner dalam bukunya berjudul “The leadership challenge” (1987) memberikan sepuluh komitmen guru/pendidik dalam pembentukan generasi masa depan.
Pertama      :  Pendidik/guru senang mencari peluang yang menantang, responsif terhadap tuntutan zaman, proaktif dan tidak statis.
Kedua        : Pendidik/guru berani mencoba dan menanggung resiko yaitu mencari terobosan  walaupun harus bertentangan dengan orang lain.
Ketiga        :  Pendidik/guru harus tampil sebagai pribadi yang kreatif dan inovatif dan mampu   menggambarkan wujud masa depan yang gemilang dan mencerahkan.
Keempat     :  Pendidik/guru mampu menjalin kerjasama dengan anggota profesi dan stake holder pendidikan lainnya.
Kelima        :  Pendidik/guru mampu menyalurkan potensi sebagai bagian dari budaya ilmiah dan jiwa  pengabdian.
Keenam     :  Pendidik/guru mampu memperkuat kemitraannya dengan peserta didik sehingga  mampu menjadi idola peserta didiknya untuk melakukan pembaharuan.
Ketujuh      :  Pendidik/guru mampu menjadi teladan “Satu keteladanan jauh lebih baik daripada seribu arahan”.
Kedepalan :   Pendidik/guru mampu merencanakan keberhasilan bertahap terhadap peserta    didiknya, sehingga mereka tidak takut dengan kegagalan.
Kesembilan :   Pendidik/guru mampu menghargai setiap individu, yaitu setiap anak diciptakan Allah berbeda, bakat. minat dan kapasitasnya.
Kesepuluh :     Mensyukuri dan mengapresiasi, sekecil apapun keberhasilan tia peserta didiknya tanpa membanding-bandingkan antara mereka.
Kesimpulan
Dalam dunia pendidikan dua generasi yang berbeda ini dituntut untuk bisa saling bersinergi sehingga mampu memaksimalkan hasil dari proses pendidikan yang ada di sekolah/madrasah. Guru-guru, sebagai digital immigrants, dituntut untuk bisa mengikuti perkembangan tehnologi sehingga dalam proses kegiatan pembelajaran dikelas bisa diterima dan diikuti oleh siswa sekaligus dapat memanfaatkan semua potensi yang sudah dimiliki siswa. 

0 komentar:

Poskan Komentar