Pages

Peranan Fasilitas Sekolah Dalam Menunjang Keberhasilan Proses Pembelajaran

syamsul ma'arif Jumat, April 01, 2011 | , ,

          Berbicara fasilitas yang menunjang keberhasilan pendidikan dalam proses belajar mengajar berarti menyangkut sarana dan prasarana pendidikan yang dapat dimanfaatkan oleh siswa dan guru dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.Sedangkan menurut Undang- undang sisdiknas nomor 20 tahun 2003 pasal 45 ayat 1 dinyatakan sebagai berikut: “Setiap satuan pendidikan formal dan nonformal menyediakan sarana dan prasarana yang memenuhi keperluan pendidiakan sesuai dengan pertumbuhhan perkembangan potensi fisik,kecerdasan intelektual,sosial,emosional,dan kejiwaan peserta didik “.dari konsep diatas jelas dapat kita sebut bahwa ternyata sarana dan prasarana syarat mutlak yang harus ada baik sebagai kelengkapan pendidikan formal maupun nonformal yang sangat dibutuhkan bagi peserta didik untuk mengembangkan potensinya secara optimal.
            Seiring dengan pemahaman diatas dan sebagai akibat kemajuan kemajuan dibidang tehnologi, maka kata sarana dalam kontek pembelajaran berkembang menjadi berbagai macam fasilitas baik yang menyangkut alat / media proses pembelajaran yang berupa soft ware dan hard ware yang amat berkembang sangat pesat terutama dengan adanya kemajuan aneka ragam elektronika yang ikut interfensi dalam menunjang perkebangan media sebagai alat untuk mengembangkan siswa dalam proses belajar dan mengajar.tentunya tidak lepas dari suatu lembaga pendidikan dalam rangka mengupayakan terpenuhi kebutuhan sarana pembelajaran yang dibutuhkan dalam proser belajar mengajar.Semua itu merupakan piranti yang perlu dijawab ketika kita hendak melingkapi penunjanjang tercapinya tujuan pembalajaran.
            Fasilitas pendidikan merupakan hal yang mencakup fundamental di dalam suatu proses. Dalam paradikma managemen terkenal dengan istilah Man, money, and materail. ketiga kata tersebut dapat kita pahami bahwa suatu keberhasilan proses sangat ditentukan oleh manusia yang berarti sumber daya manusia yang handal akan menentukan menentukan sebuah rencana.Sedangkan money merupakan fasilitas finansial untuk mencapai suatu proses,ini berarti bukanlah satu satunya untuk mencapai suatu tarjet,namun bila tidak ada uang yang memedai maka segala sesuatunya cenderung mengalami kendala.apalagi diera yang serba konsumtif ini maka uang memegang peran penting dalam aspek menegemen agar tujuan yang hendak dicapai berjaalan dengan lancar.Demikian juga yang mencakup material  yang berarti segala sesuatu yang mencakup kebutuhan sarana dan prasarana yang mencakup soft ware dan hard ware dalam komunitas pembelajaran harus memadai dan mudah dimanfaatkan dalam pembelajaran,jika semua fasilitas tersedia dalam suatu lingkungan pembelajaran maka akan mencadi pendukung utama dalam proses keberhasilan pembelajaraan secara optimal.
            Seperti kita ketahui kami selaku pendidik dalam mengajar sangat jauh dari harapan kaitanya dengan keberadaan fasilitas pebelajaran, berdasarkan pengalaman kami mengajar selama kurang lebih sudah sepuluh tahun, dalam seting pembelajaran dikelas masih menggunakan fasilitas yang jauh dari harapan
Terutama didaerah yang belum maju dan fasilitas serba terbatas maka prosesbelajar mengajar berjalan apa adanya, seorang guru mengajar hanya dengan fasilitas kapur dan papan tulis yang ada dalam kelas.Kondisi seperti ini tentu akan tidak membawa perubahan dalam proses,karena anak dan guru sebagai sujek dan objek didik dalam hal ini tidak bayak berbuat dikarenakan terbatasnya sarana tadi.Tentunya tidaklah cukup seorang guru menerangkan materi hanya dengan cara berceramah melulu karena akan menjadikan penguasaan konsep yng semakin  verbalisme dan pembelajaran yang hampa dan membosankan,tetapi lebih dari itu mestinya mereka harus dapat melakukan sesuatu tindakan yang amat berarti dala berbagai aktifitas,seperti:mendengarkan,mengamati,mencoba,menelidiki,menguji,menampilkan dan masih banyak variasi-variasi lainnya yang bisa kita lakukan.Sayangnya keinginan itu terbatas sekedar angan-angan karena memang keterbatasan fasilitas yang ada dalam pembelajaran.
            Jika kondisi demikian adanya terjadi dikebanyakan sekolah maka keberhasialan yang akan dicapai merupakan keberhasilan yang stagnan dan kalau demikian adanya,pantas kondisi kwalitas pendidikan selalu pada posisi bawah semua itu memang disebabkan berbagai faktor yang cukup komplek,namun salah satu faktor penyebabnya kerena memang keterbatasan sarana dan prasarana pada dunia pendidikan.
            Disinilah kondisi pendidikan saaat ini, pemerintah haruslah memperhatikan akan kondisi saat ini dan pada giliranya perlu adanya upaya peningkatan sarana dan prasarana pendidikan di seiap lingkungan pendidikan agar lembaga lembaga penidikan yang masih memiliki sarana kurang memadai diberikan fasilitas yang ckup  agar guru dan para pendidik dapat ambil bagian didalam memanfaatkan fasilitas didalam proses pembelajaran.Jika kebutuhan tersebut terpenuhi maka kelangsungan pembelajaran akan dapat dipastikan lebih berdaya guna dan berhasil guna.Tetapi jika tidak sebenarnya ketinggalan kitinggalan akan terjadi, maka sekolah akhirnya aka hanya berfungsi untuk mencipta kredensial formal belaka,tidak membekali peserta didik dengan pengetahuan,ketrampilan,nilai dan sikap untuk mengembangkan diri kedunia akademis yang lebih tinggi atau untuk memasuki dunia yang siap kerja bukan siap latih atau lebih fatal lagi jika peserta akan menjadi manusia manusia pengangguran dekarenakan tidak memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang memadai dikarenakan pada saat belajar disekolah tidak bayak berbuat  karena keterbatasan fasilitas dalam proses belajar mengajar.Sementara di sekolah-sekolah yang sudah syarat akan kelengkapan sarana dalam proses pembalajaran tentunya akan membawa hasil pencapaian optimal dan akan menciptakan kondisi pembelajaran yang lebih kondusif,sehingga pantaslah kondisi yang demikian akan meningkatkan semangat siswa dan guru dalam mengembang misi peningkatan akademis.
dapatlah dikatakan ternyata fasilitas amatlah urgen sebagai faktor penentu keberhasilan pembelajaran siswa dalam proses pembelajaran dan kegiatan belajar mengajar.  


1.  Pengertian Fasilitas Pendidikan

Sebelum kita memasuki pembahsan masalah Fasilitas Pendidikan, ada beberapa pengertian yang perlu dijelaskan terlebih dahulu. Adakah hubungan antara Fasilitas Pendidikan dengan Teknologi Pendidikan, Teknologi dalam Pendidikan dan Teknologi Instruksional.
Membaca atau mendengar istilah teknologi pendidikan pikiran kita tertuju pada alat-alat besar dan berat yang digerakkan dengan tenaga mesin. Sebenarnya Teknologi Pendidikan merupakan proses yang kompleks dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan, dan organisasi untuk menganalisis masalah, mencari jalan pemecahan, melaksanakan, mengevaluasi, dan mengelola pemecahan masalah yang menyangkut semua aspek belajar manusia.( Latuheru : 1988: 2 )
Dalam teknologi pendidikan, pemecahan masalah berwujud dalam bentuk segala sumber belajar yang dirancang atau dipilih sebagai pesan, orang, bahan, peralatan, teknik dan lingkungan.
Dari uraian di atas dapat ditarik pengertian bahwa teknologi pendidikan mempunyai sifat yang kompleks dan terpadu dan melibatkan segala sumber belajar yang meliputi orang, bahan, peratalan, teknik, dan lingkungan.
Disini perlu dibedakan antara teknologi pendidikan dengan teknologi dalam pendidikan. Sekilas kedua hal itu banyak orang mengartikan dan mempunyai kedudukan yang sama. padahal kedua hal tersebut berbeda.
Yang dimaksud dengan teknologi dalam pendidikan adalah penggunaan atau penerapan teknologi terhadap proses-proses yang terlibat dalam pengoperasian lembaga-lembaga yang mengurus upaya-upaya pendidikan.(Sulaeman, 1988: 6).
Definisi yang lain yaitu Teknologi dalam pendidikan adalah penggunaan/ pemanfatan hasil teknologi industri di dalam proses pendidikan.(Latuheru, 1988: 5)
Dari kedua definisi di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimasud dengan teknologi dalam pendidikan adalah pemanfaatan hasil teknologi dalam memperlancar dan mempermudah proses pendidikan. Jadi secara singkat teknologi dalam pendidikan bermanfaat dalam membantu kelancaran proses pendidikan. Dan bersifat media pendidikan.
Teknologi pendidikan sering dikacaukan dengan Teknologi Instruksional. Yang dimaksud dengan teknologi instruksional adalah bagian dari teknologi pendidikan berdasar atas konsep bahwa pembelajaran(instruksional) adalah bagian dari pendidikan. (Sari pustaka Teknologi Pendidikan No.3). Teknologi instruksional menurut Sulaeman (1988:7) yaitu merupakan satu sub-set daripada teknologi pendidikan,didasarkan atas suatu konsep bahwa pengajaran adalah sub-set daripada pendidikan.
Teknologi instruksional adalah suatu proses yang kompleks dan terpadu, melibatkan orang, prosedur-prosedur, gagasan-gagasan, alat-alat dan organisasi.
Dari tiga konsep diatas; teknologi pendidikan, teknologi dala pendidikan dan teknologi instruksional ternyata ada hubungan satu dengan yang lain. Dengan sederhana da[patlah kita artikan sebagai berikut; Teknologi Pendidikan meliputi teknologi dalam pendidikan dan teknologi instruksional.Teknologi dalam pendidikan adalah falitas atau sarana pendukung terlaksananya proses pendidikan. Dan Teknologi instruksional adalah fasilitas yang bersentuhan langsung dengan proses pebngajaran.
Dari gambaran di atas dapat diambil hubungan bahwa yangdimaksud dengan fasilitas pendidikan meliputi ketiga teknologi di atas. Untuk membatasi pembahsan, dalam kesempatan ini yangakan dibahas adalah fasilitas yang berhubungan dengan teknologi dalam pendidikan dan teknologi instruksional(media pembelajaran).

2.   Teknologi dalam Pendidikan
Perlu kita ingat kembali pengertian teknologi dalam pendidikan di atas. Yang dimaksudkan dengan teknologi dalam pendidikan adalah pemanfaatan hasil teknologi dalam rangka menunjang proses pendidikan agar lebih mudah dan cepat.
Yang termasuk teknologi dalam pendidikan adalah gedung-gedung sekolah, laboratorium IPA, Laboratorium IPS, laboratorium Bahasa dan laboratorium yang lain yang ada kaitannya dengan sekolah/pendidikan. Komputer dengan segala perangkatnya, internet dengan segala jaringannya, buku-buku penunjang dan media cetak lainya.


3.   Teknologi Instruksional (Media pembelajaran)
Kata media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harafiah berarti perantara atau pengantar. Bahwasannya media itu merupakan wahana penyalur pesan atau informasi belajar. Jadi media mempunyai ciri: a) media merupakan wadah dari pesan yang oleh sumber atau penyalurnya ingin diteruskan kepada sasaran atau penerima pesan tersebut, b) bahwa materi yang ingin disampaikan adalah pesan pembelajaran, dan bahwa tujuan yang ingin dicapai adalah terjadinya proses belajar.


4.   Fungsi /Peranan Media
Pada mulanya media hanya berfungsi sebagai alat bantu visual dalam kegiatan belajar/mengajar, yaitu berupa sarana yang dapat memberikan pengalaman visual kepada siswa antara lain: mendorong motivasi belajar, mempermudah dan memperjelas konsep yang abstrak, mempertinggi daya serap atau retensi belajar
Dengan konsepsi yang semakin mantap itu fungsi media dalam kegiatan pembelajaran tidak lagi sekedar peraga bagi guru melainkan pembawa informasi atau pesan pembelajaran yang dibutuhkan siswa. Dengan demikian tugas guru dapat lebih terpusat pada bimbingan dan penyuluhan individual dan pengelolaan kegiatan belajar-mengajar.
Sebagai bagian dari system pembelajaran, media mempunyai nilai-nilai praktis berupa kemempuan/ ketrampilan untuk ;
a)   membuat konkrit konsep yang abstrak;
b)   membawa obyek yang berbahaya atau sukar didapat ke dalam lingungan belajar;
c)   menampilkan obyek yang terlalu besar;
d)   menampilkan obyek yang tidak dapat diamati mata langsung;
e)   mengamati gerakan obyek yang terlalu cepat;
f)   memungkinkan siswa berinteraksi langsung denganlingkungannya; 
g)   memungkinkan keseragaman pengamatan dan persepsi bagi pengalaman belajar siswa; h) membangkitkan motivasi belajar siswa;
i)   memberi kesan perhatian individual untuk seluruh anggota kelompok belajar;
j)   menyajkan informasi belajar secara konsisten dan dapat diulang maupun disimpan menurut kabutuhan;
k)  menyajikan pesan atau informasi belajar secara serempak, mengatasi batasan waktu maupun ruang;
l)   mengontrol arah maupun kecepatan belajar siswa.
Menurut Yusufhadi Miarso dalam bukunya Teknologi Komunikasi Pendidikan menyatakan bahwa ada dua pertimbangan penggunaan media pendidikan dalam pengajaran; pertimbangan tugas dan peranan guru dan Tuntutan Kurikulum
1.   Pertimbanga Tugas dan Peranan guru
Dewasa ini timbul perkembangan yang mengarah pada isolasi sekolah terhadap masyarakat, yaitubahwa sekolah merupakan lembaga yang eksklusif-yang menyendiri dengan anggota-anggota yang tertentu.Kecenderungan ini masih akan cukup terasa bilamana guru kelas masih berpendapat bahwa dialah penguasa tunggal di dalam kelas. Berbagai usaha telah dilakukan untuk menyediakan sumber belajar yang bervariasi di dalam kelas, di antaranya berupa buku teks, buku bacaan, peta dan alat-alat pelajaran lain. Tetapi kenyataan masih banyak menunjukkan adanya sarana itu sebagai pajangan /hiasan dan belum merupakan bagian yang integral dalam proses belajar. Di samping itu, dengan semakin bertambahnya isi pengetahuan yang harus dinerikan guru, ditambah lagi dengan bertambahnya jumlah murid, bertambahnya tugas guru baik alas an social dan ekonomis, maka harus ada jalan keluar. Salah satu jalan keluar itu adalah penggunaan media pendidikan dalam proses pengajaran.

2.   Tuntutan Kurikulum
Penggunaan media pendidikan juga harus didasarkan pada analisa atas kurikulum. Analisa atas kurikulum itu dapat dilakukan dengan dua pendekatan yang pertama berdasarkan kegiatan apa yang dilakukan oleh murid dan kedua atas dasar sifat subyek yang perlu dipelajari. Sebagai contoh dapat dikemukakan bahwa dalam pelajaran lagu dan gaya bahasa secara baik. Untuk itu anak harus melatih diri dengan mengucapkan, membandingkan, mengulang dan seterusnya hingga dapat membiasakan diri. Di dalam hal ini guru dapat memilih media yang mempunyai kemampuan untuk merekam , membandingkan dan mengulang, yaitu misalnya pita kaset. Berdasarkan sifat subyek dapat diberiakn contoh misalnya dalam pelajaran IPA yang sifatnya konkrit. Dalam mengajarkan sifat-sifat air yang menekan ke semua arah, yang selalu mempunyai permukaan rata. Guru dapat memilih media berupa alat alat percobaan.

5.   Prinsip Umum Penggunaan Media
Mengingat banyak ragam dan jenis media yang perlu dipergunakan dan disiapkan oleh guru dalam proses pembelajaran, agar tidak terjadi kemubadiran dan mengurangi fungsi dan kegunaan media, perlu kiranya mengetahui prinsip-prinsip media. Menurut Yusufhadi Miarso (1982) ada 12 prinsip umum media, antara lain :
1.      Tidak ada satu metode dan media yang harus dipakai dengan meniadakan yang lain.
2.      Media tertentu cenderung untuk lebih tepat dipakai dalam menyajikan sesuatu unit pelajaran daripada media lain.
3.      Tidak ada satu mediapun yang dapat sesuai untuk segala macam kegiatan belajar.
4.      Penggunaan media yang terlalu benyak sekaligus justru akan membingungkan dan tidak memperjelas pelajaran
5.      Harus senantiasa dilakukan persiapan yang cukup untuk menggunakanmedia pendidikan.
6.      Media harus merupakan bagian integral dari pelajaran
7.      Anak-anak harus disiapkan dan diperlakukan sebagai peserta yang aktif.
8.      Murid harus ikut serta bertanggung jawab untuk apa yang terjadi selama pelajaran
9.      Secara umum perlu diusahakan penampilankan yang positif dari pada yang negative
10.  Hendaknya tidak menggunakan media pendidikan sekedar sebagai selingan atau hiburan, pengisi waktu, kecuali memang tujuan pengajarannya demikian
11.  Pergunakan kesempatan menggunakan media yang dapat ditangapi untuk melatih perkembangan bahasa, baik lisan maupun tertulis
Dari sebelah prinsip umum penggunaan media dapat diraik kesimpulan bahwa penggunaan media pegajaran harus bermanfaat, tepat guna dan berhasil guna dalam menningkatkan kemampuan siswa menerima pelajaran dan memperoleh pengetahuan baru.

6.   Klasifikasi Media Pembelajaran
Banyak cara para ahli pendidikan mengklasifikasikan media pengajaran. Media bisa dikelompokkan menrut besar kecilnya biaya, media menurut luas sempitnya kemampuan daya liputannya dan media dikelompokkan menurut jenisnya visual, audio dan gerak. Menurut Rahardjo ada 7 bagian dari media audio visual gerak, yaitu :
-         Media audio visual gerak merupakan media yang paling lengkap,yaitu menggunakan kemampuan audio visual dan gerak.
-         Media audio visual diam merupakan media kedua dari segi kelengkapan kemampuannya karena ia memiliki semua kemampuan yang ada pada golongan sebelumny kecuali penampilan gerak.
-         Media audio semi gerak memiliki kemapuan menampilkan suara disertai gerakan titik secara linier, jadi dapat menampilkan gerakan nyata secara utuh.
-         Media visuak gerak memiliki kemampuan seperti golongan pertama kecuali penampilan suara.
-         Media visual diam mempunyai kemampuan menyampaikan informasi secara visual tetapi tidak dapat menampilkan suara maupun gerak.
-         Media audio adalah media yang hanya memanipulasikan kemampuan-kemampuan suara semata-mata.
-         Media cetak merupakan media yang hanya mampu menampilkan informasi berupa huruf-angka(alpha-numeric) dan symbol-simbol verbal tertentu saja.

Kesimpulan
Dari gambaran di atas, terpikirlah di benak kita para pendidik dan pemerhati pendidikan untuk menciptakn situasi-situasi yang menyenangkan bagi siswa dalam belajar. Tugas ini pun harus diemban oleh semua unsur baik tenaga pemikir yang akan mengembangkan teknologi pendidikan , teknologi dalam pendidikan dan lebih-lebih teknologi instruksional.( pengembang media pendidikan).



DAFTAR  PUSTAKA


DePorter, Bobbi. 2000. Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Bandung.: Kaifa.

Latuheru, John D. 1988. Media Pembelajaran:Dalam Proses Belajar-Mengajar Masa Kini. Jakarta; P2LPTK.

Miarso, Yusufhadi. 1985. Teknologi Komunkasi Pendidikan: Pengertian dan Penerapannya di Indonesia. Jakarta: Rajawali.

______  Definisi Teknologi Pendidikan. Jakarta: Seri Pustaka Teknologi Pendidikan No.3

Sulaeman, Dadang. 1988. Teknologi /Metodologi Pengajaran. Jakarta; P2LPTK.

Latuher,John D.1988 Media pembelajaran. Departemen pendidikan dan kebudayaan, Jakarta.

P.Sondang ,1985, Filsafat Administrasi. Gunung Agung, Jakarta.

Undang-Undang sistem Pendidikan Nasional. No. 20 tahun 2003.

Pendidikan Poppuler: Dekonolisasi Metodologi.2003 Wacana. Edisi15. tahun IV .
Dasar- dasar Pendidikan,   1985,Uninersitas Terbuka.Jakarta. 

1 komentar:

Poskan Komentar