Pages

Pemanfaatan Media Sosial “Facebook” Untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Teks Discussion Siswa Kelas XII MAN Jombang

syamsul ma'arif Senin, Mei 16, 2016 | ,

By
Syamsul Ma’arif, S.Pd. M.Pd
(Guru Bahasa Inggris MAN Jombang)

               Abstrak:  Makalah ini memuat tentang laporan hasil penelitian tindakan kelas dengan memanfaatkan media sosial facebook untuk meningkatkan kemampuan menulis teks jenis discussion siswa kela XII MAN Jombang. Penelitian ini melibatkan siswa kelas XII IPA 3 MAN Jombang yang terdiri dari 32 siswa. Penelitian ini terdiri dari 2 siklus yang masing-masing siklus terdiri dari 3 pertemuan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan facebook sebagai media pembelajaran menulis dapat meningkatkan kemampuan menulis siswa. Peningkatan kemampuan ini ditandai dengan adanya ketercapaian indikator kinerja yang telah ditentukan peneliti dan juga peningkatan keaktifan belajar siswa.
Kata kunci: media sosial facebook, kemampuan menulis, teks discussion
A.     Pendahuluan
Bahasa Inggris merupakan alat untuk berkomunikasi secara lisan dan tulis. Berkomunikasi adalah memahami dan mengungkapkan informasi, pikiran, perasaan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya. Kemampuan berkomunikasi dalam pengertian yang utuh adalah kemampuan berwacana, yakni kemampuan memahami dan/atau menghasilkan teks lisan dan/atau tulis yang direalisasikan dalam empat keterampilan berbahasa, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis (Dedpdiknas, 2006). Keempat keterampilan inilah yang digunakan untuk menanggapi atau menciptakan wacana dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu, mata pelajaran Bahasa Inggris diarahkan untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan tersebut agar lulusan mampu berkomunikasi dan berwacana dalam bahasa Inggris pada tingkat literasi tertentu.
Diantara empat ketrampilan bahasa tersebut ketrampilan menulis termasuk dalam productive skill. Dalam ketrampilan ini produk tulisan siswa menjadi sebuah target akhir dari proses pembelajaran. Menurut Duin (1986) kemampuan menulis penting untuk diajarkan karena tulisan dapat menjadi alat untuk menyampaikan ide, gagasan, dan pesan ke pembaca dengan tujuan tertentu. Disamping itu dengan tulisan kita dapat menjelaskan dan mendiskripsikan sesuatu kepada seseorang yang jauh dari kita.
Ketrampilan menulis merupakan ketrampilan yang jarang diajarkan pada peserta didik baik ditingkat MTs atau MA. Ada bebarapa alasan mengapa ketrampilan menulis sering diabaikan oleh guru. Pertama, Guru kesulitan dalam merencanakan dan mengajarkan ketrampilan ini. Kedua ketrampilan menulis tidak diujikan dalam semester atau ujian akhir. Ketiga, guru lebih sering disibukkan dengan menerangkan dan menjelaskan bagian-bagian (generic structure) dari sebuah teks dibanding dengan mengaplikasikannya dalam sebuah tulisan siswa. Terakhir, pembelajaran ketrampilan menulis sangat menyita waktu baik dalam prosesnya dan juga dalam pemberian umpan balik.
Berhubungan dengan alasan kenapa ketrampilan menulis sering diabaikan oleh guru, Alwasilah (2004) dalam penelitiannya menemukan bahwa dalam budaya Indonesia literasi belum diartikan sebagai “kemampuan untuk membaca dan menulis” tapi masih diartikan sebatas “kemampuan untuk membaca”. Selain itu, guru lebih banyak menghabiskan waktu yang telah mereka alokasikan untuk menerangkan grammar  daripada mengajarkan ketrampilan menulis itu sendiri. Alasan lain yang dia temukan adalah guru sering mengeluh dengan kelas besar yang mereka ajar. Hal ini menjadikan guru tak mungkin mengoreksi hasil pekerjaan siswa secara efektif.
Ketidakmampuan menulis diyakini sebagaian besar orang disebabkan karena kegagalan pengajaran ketrampilan menulis disekolah-sekolah. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pengajaran menulis selama ini hanya menitikberatkan pada pengajaran tata bahasa atau tata cara menulis, bukan mengarahkan peserta didik pada untuk banyak menulis. Hasilnya, sekalipun anak didik sudah sekian lama memperoleh pengajaran menulis, tapi mereka hanya menguasai teori, dalil, atau prinsip-prinsip cara menulis.
Berdasarkan pengamatan penulis, kemampuan menulis siswa kelas XII MAN Jombang secara umum masih lemah. Salah satu indikatornya adalah masih rendahnya kwalitas tulisan siswa baik dalam hal tata bahasa, dan pengembangan dan pengorganisasian ide hal ini menyebabkan perolehan nilai ketrampilan menulis siswa masih rendah. 
Disamping itu, penulis juga menemukan masalah-masalah yang membutuhkan pemecahan. Pertama, siswa merasa kesulitan untuk memulai menulis sebuah tulisan sederhana yang berhubungan dengan topic yang sedang mereka pelajari. Hal ini membuat mereka manghabiskan waktu yang lama hanya untuk memulai menulis sebuah paragraf sederhana. Disamping itu, mereka merasa kesulitan untuk menemukan dan mengorganisir ide yang berhubungan dengan topic bahasan. Kedua, Mereka merasa kesulitan untuk mengembangkan sebuah paragraf yang terpadu sehingga tulisan mereka sulit untuk dipahami. Ketiga, kebanyakan kalimat-kalimat yang mereka tulis dalam tulisan mereka tidak menyatu dan berhubungan dengan ide utamanya. Keempat, masih banyaknya kesalahan gramatikal dalam karangan mereka. Terakhir, siswa cenderung tidak aktif dan tidak punya motivasi dalam pengajaran writing karena mereka merasa kesulitan.
Ada beberapa faktor yang menjadi sebab munculnya masalah-masalah diatas. Faktor pertama, kurangnya porsi pengajaran ketrampilan menulis dikelas dibanding dengan ketrampilan lain seperti membaca dan membahas tata bahasa. Kedua, dalam memberikan tugas menulis guru terkadang tidak memberikan contoh dan bimbingan bagaimana menuangkan ide dan mengembangkannya pada setiap proses menulis. Hal ini menyebabkan pembelajaran ketrampilan menulis hanya bertumpu pada hasil (product oriented) bukan pada proses (proccess oriented). Terakhir, guru tidak berusaha untuk menggunakan strategy atau media pembelajaran tertentu sehingga pembelajaran terkesan monoton dan membuat siswa cepat bosan.
Berdasarkan fakta-fakta diatas mendorong penulis untuk mencari solusi pemecahan masalah yang dapat memotivasi siswa untuk dapat mengembangkan kemampuan menulis mereka. Adapun strategy yang akan diterapkan oleh penulis untuk memecahkan masalah diatas adalah dengan pemanfaatan media sosial facebook. Media sosial Facebook merupakan media sosial yang sangat terkenal dan banyak siswa yang sudah memiliki akun facebook. Aplikasi facebook sangat mudah dibuka baik menggunakan komputer, laptop, ataupun HP. Dengan memanfaatkan facebook sebagai media pembelajaran menulis diyakini proses pembelajaran menulis akan lebih menarik dan dapat memotivasi siswa.
            Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan strategy pembelajaran dengan memanfaatkan media sosial facebook untuk meningkatkan kemampuan menulis teks discussion siswa kelas XII IPA 3 di MAN Jombang. Secara teoritis penelitian ini memiliki diharapkan bermanfaat untuk : (1) menambah literatur  pendidikan, terutama berkait dengan upaya meningkatkan prestasi kemampuan menulis siswa dalam bahasa Inggris, (2)menjadi referensi bagi penelitian-penelitian sejenis sesudahnya. Adapun secara praktis penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk : (1) sebagai rujukan, panduan, dan cara alternatif bagi para guru dalam mengajarkan kemampuan menulis dalam bahasa Inggris, (2) sebagai rujukan dan panduan bagi para siswa untuk mengatasi kesulitan mereka dalam mengembangkan kemampuan menulis dalam pelajaran bahasa Inggris.
B.    Kajian Pustaka
1.     Hakikat Menulis
Menulis merupakan kegiatan yang dianggap paling sulit.  Menurut Stone (1990:11) menulis merupakan kemampuan yang komplek bagi siswa ketika mereka menuangkan ide dan gagasannya kedalam bantuk tulisan. Ketrampilan menulis bukan hanya kemampuan penulis berkomunikasi dengan pembaca tetapi juga kemampuan penulis menuangkan apa yang ada dalam pikirannya kedalam bentuk tulisan (Byrne, 1984). Maka dari itu untuk menjadi penulis yang baik harus dapat menghubungkan pikiran dan imaginasinya dengan audiens dan pembacanya.
Menurut Harmer (2004) ketrampilan menulis sangat bermanfaat untuk kegiatan lain juga. Contohnya, ketika dalam sebuah diskusi, pembicara akan menulis beberapa kalimat/paragraf dengan harapan ide dan gagasan yang akan disampaikan dapat mudah diikuti dan dipahami. Ketika seseorang diminta membuat laporan atau menulis tugas, mereka juga mendemontrasikan apa yang telah mereka ketahui dan pahami dari buku dan dituangkan kedalam bentuk tulisan mereka.
Selanjutnya, Ur (1996) menyatakan bahwa menulis merupakan keseimbangan antara isi dan bentuk. Artinya, menulis itu berhubungan erat dengan bagaimana penggunaan dan pemilihan kata, penggunaan tata bahasa yang tepat, mekanisme tulisan, dan menyatukan gagasan dan ide.
Sebagai alat untuk menyampaikan ide/pikiran, ketrampilan menulis perlu diajarkan sejak dini mungkin. Hal ini dikarenakan menulis merupakan sarana unutk memperjelas konsep yang mereka telah peroleh, juga berguna untuk menyampaikan pengalaman mereka, untuk berbagi pengalaman dan juga bermanfaat untuk melamar pekerjaan.
2.     Pendekatan Proses Dalam Pembelajaran Menulis
Ketrampilan menulis merupakan satu kesatuan proses yang dimulai dari menemukan ide, mengembangkan dan mengorganisir ide tersebut yang kemudian dengan kegiatan perbaikan/ revisi (Gardner, 2005: 111). Dengan demikian untuk menciptakan tulisan yang baik membutuhkan proses panjang yang melibatkan beberapa kegiatan. Hal ini tentu memerlukan waktu dan praktek yang cukup. 
Berhubungan dengan proses menulis Tribble (1996:39) menyatakan bahwa proses menulis, dikenal dengan itilah pendekatan proses, mencakup lima tahapan utama: melakukan kegiatan awal (pre-writing), membuat draft tulisan (drafting), merevisi (revising), mengedit (editing), dan yang terakhir menerbitkan (publishing).
            Adapun penjelasan dari masing-masing tahapan menulis diatas dapat dijabarkan sebagaimana berikut:
2.1 Pre-writing
            Pre-writing merupakan bagian penting dalam proses menulis. Pada tahap ini siswa memulai langkah awal proses menulis. Siswa memulai dengan menyiapkan ide dan gagasan tentang topik tulisan. Menurut Smalley dkk (2001: 3) pada tahapan ini siswa menggunakan waktunya untuk memikirkan topik dan gagasan umumnya. Kadang-kadang pada fase ini siswa merasa kesulitan bahkan frustasi karena tidak mendapatkan ide tentang topik yang dibahas. Beberapa tehnik bisa dilakukan untuk menyelesaikan masalah ini seperti brainstorming, mind mapping, atau dengan pertanyaan 5W1H. Hal ini bisa menstimulasi siswa fokus pada penemuan ide dan  gagasan dalam memulai menulis. Menurut Seow (2002: 316) dengan menggunakan pertanyaan who, why, what, where, when and how akan membantu siswa lebih cepat menemukan ide dan gagasan dalam membuat karangan terutama jenis teks narative, recount, descriptive dan discussion.
 Pada kegiatan pre-writing siswa akan lebih cepat berkonsentrasi dalam menyusun kerangka tulisan (Smalley, et al., 2001: 3). Kerangka karangan dalam ketrampilan menulis memiliki dua fungsi yakni (1) memetakan susunan tulisan terutama sesuai jenis teks yang dikehendaki dan (2) menjadi acuan penulisan untuk dikembangkan (Sharples, 1999: 74).
2.2 Drafting
Ketika siswa telah menemukan gagasan dan ide dalam tahapan pre-writing, mereka perlu menulis semua gagasan tersebut dalam bentuk draft awal. Menurut Gardner (2005: 111) dalam tahap drafting siswa memulai menyampaikan dan mengembangkan ide dan gagasan nya. Siswa lebih konsentrasi dan fokus pada isi gagasan dan hubungan antar ide yang telah dirancang.
Pada fase drafting siswa diminta untuk menuliskan idenya tanpa khawatir akan kesalahan susunan tata bahasa dan kerapian (Roe, et al., 1995: 357). Siswa lebih ditekankan pada isi gagasan/ide nya daripada ketatabahasaannya.
2.3 Revising
Drafting bukan merupakan akhir dalam proses menulis. Draft awal tulisan merupakan awal tulisan. Setelah menyusun draft siswa diminta untuk merivisi. Kegiatan revisi mempunyai peran penting dalam proses menulis (Seow, 2002: 317). Revisi draft awal tulisan siswa bisa dilakukan oleh guru atau oleh teman sebaya/peers. Dalam proses revisi guru atau teman sebaya bisa memberikan lembar checklist untuk revisi pada draft yang mereka baca.
Menurut Gardner (2005: 119) tahap revisi melibatkan proses mengkaji ulang isi tulisan serta memperjelas isi ide/gagasan dan susunan teksnya yang meliputi pilihan kata, kalimat, hubungan antar paragraf, serta karangan secara utuh. Revisi bukan sekedar untuk mengecheck kesalahan tatabahasa/grammar tapi lebih dari itu juga untuk melihat isi/content, koherensi, kesatuan ide, dan struktur tulisan sehingga ide penulis lebih jelas dan bisa dipahami pembaca (Seow, 2002: 317).
2.4 Editing
Ketika draft awal yang telah direvisi telah sesuai dengan isi, kejelasan ide, kesatuan danpengembangan gagasan, koherensi, dan struktur teks nya, siswa bisa melanjutkan fase berikutnya dalam tahapan menulis yakni editing. Menurut Ferris (2002:328) kegiatan editing lebih mengacu pada pembenahan/perbaikan pada kesalahan tata bahasa, ejaan kata, dan mekanisme tulisan menjadi hasil akhir tulisan. Pendapat ini juga didukung Gebhard (1996:230) yang menyatakan bahwa proses editing merupakan tugas individu yang ditekankan pada perbaikan kesalahan tata bahasa, tanda baca, ejaan kata, mekanisme dan pilihan kata.
Gardner (2005: 122) menyampaikan bahwa point penting dalam tahap editing bukan pada menghasilkan karya tulis yang sempurna tapi lebih ditekankan agar maksud dari tulisan itu lebih bisa tangkap pembaca dan bahasa nya lebih mudah dipahami dan enak dibaca. Dengan demikian sebagaimana pendapat-pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa fase editing dalam proses menulis sangat penting.
2.5 Publishing
            Publishing merupakan tahapan terakhir dalam proses menulis. Tribble (1996:103) menyatakan bahwa fase publishing menjadi bagian penting dimana penulis memutuskan untuk mengakhiri kegaiatan menulisnya. Dalam tahap publishing siswa memiliki kesempatan untuk membagi hasil karya tulisannya ke pembaca baik teman kelas, guru, orang tua, atau orang lain yang tidak terlibat dalam proses pembelajaran.  Fase publishing ini bisa memotivasi siswa untuk terus menulis. Tahapan publishing bisa dilakukan dengan cara siswa diminta membaca dengan suara keras didepan kelas, ditempel dimading, dimuat dibuletin sekolah atau di web sekolah (Cox, 1999: 327).
Dari penjabaran diatas maka dapat disimpulkan bahwa tahapan-tahapan dalam proses menulis sangat penting. Penekanan pada proses (proses oriented) akan menghasilkan sebuah tulisan yang baik. Pembelajaran menulis harus ditekankan pada prosesnya dari pada hasilnya. Proses yang baik dalam kegaiata menulis akan menghasilkan tulisan yang menarik bagi pembaca baik dari sisi isi, pilihan kata, hubungan antar paragraf, tata bahasa dan tanda bacanya.
3.     Media Sosial dalam Pembelajaran
3.1.  Definisi Media Sosial
Blogs, Twitter, Facebook, Pinterest, Redit, Google+, dan LinkedIn adalah contoh dari media sosial atau dalam bahasa Inggris-nya disebut sebagai social media. Definisi Social Media dalam investopedia adalah sebagi berikut:
Internet-based software and interfaces that allow individuals to interact with one another, exchanging details about their lives such as biographical data, professional information, personal photos and up-to-the-minute thoughts.
Maksud dari definisi tersebut adalah Media Social merupakan software berbasis internet yang dapat memfasilitasi penggunanya untuk berinteraksi satu sama lain, saling bertukar data pribadi secara lengkap atau informasi pekerjaan, foto pribadi, atau apa yang sedang dipikirkan saat itu juga.  Andreas Kaplan dan Michael Haenlein mendefinisikan media sosial sebagai “sebuah aplikasi berbasis internet yang dibangun berbasis teknologi Web 2.0, dan yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran user-generated content”. Tulisan Andreas Kaplan dan Michael Haenlein tentang Media sosial tersebut dapat dibaca dalam wikipedia.
3.2.  Pemanfaatan Facebook Sebagai Media Pembelajaran
Facebook merupakan situs web jejaring sosial popular yang memungkinkan para penggunanya dapat menambah foto, kontak, atau informasi personil lainnya dan dapat bergabung dalam komunitas untuk melakukan koneksi dan berinteraksi dengan pengguna lainnya. Facebook didirikan oleh Mark Zuckerberg pada tangal 4 Februari 2004.
Awalnya penggunaan facebook hanya diperuntukkan bagi mahasiswa dari Harvard College. Kemudian diperluas ke sekolah lain di wilayah Boston, Rochester, Stanford, NYU, Northwestern, dan semua sekolah yang termasuk dalam Ivy Leagu. Kemudian banyak perguruan tinggi yang kemudian ditambahkan berturut-turut dalam kurun waktu setahun setelah peluncurannya. Akhirnya, orang-orang yang memiliki surat-e suatu universitas dapat bergabung dengan situs jejaring sosial tersebut. Pada September 2006, facebook mulai membuka pendaftaran bagi siapa saja yang memiliki alamat e-mail.
Saat ini pelajar lebih tertarik dengan penggunaan teknologi-teknologi yang sedang berkembang saat ini. Hal inilah yang menjadi kelebihan pengaplikasian penggunaan facebook sebagai media pembelajaran. Karena dengan menggunakan facebook yang akhir-akhir ini sedang di puncak kepopularitasannya menjadi jejaring sosial yang sangat digemari para pelajar, peserta didik menjadi sangat tertarik dengan materi yang disampaikan lewat facebook. Karena setiap peserta didik sudah memiliki facebook dan sangat aktif dalam penggunaan facebook hal ini dapat memperlancar kegiatan pembelajaran dengan menggunakan facebook sebagai perantaranya (Sindang: 2013).
Pemilihan media pembelajaran oleh pendidik secara tepat juga dapat menambah keefektifan proses pembelajaran, karena pemilihan media pembelajaran yang menarik dapat menimbulkan rasa ingin tahu yang tinggi peserta didik, akan mempermudah terjadinya proses pembelajaran itu sendiri,dan dapat menjadikan peserta didik lebih aktif dalam proses pembelajaran. Dengan media pembelajaran juga  terjalinnya komunikasi antara pendidik dan peserta didik. Selain itu, Sanjaya (2006:173) mengemukakan bahwa media pembelajaran harus sesuai dengan materi pembelajaran. Maka dari itu tidak selamanya facebook dapat dijadikan sebagai media dalam setiap proses pembelajaran.
Dari penjelasan teori diatas, maka facebook dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran dengan memanfaatkan fitur-fiturnya. Adapun fitur yang dipakai peneliti dalam penelitian ini adalah fitur facebook group.  Setiap pengguna facebook dapat mempergunakan,membuat dan bergabung pada sebuah group, tentunya dalam hal ini group facebook dalam kajian-kajian keilmuan, study club, dan komunitas peserta didik. Mencantumkan link soal latihan di facebook yang mengarah ke blog guru mata pelajaran. Sehingga selain siswa bisa belajar tentang materi soal pelajaran, blog guru tersebut juga akan kebanjiran pengunjung yang tidak lain adalah para siswanya sendiri.
C.    Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (classroom action research), karena penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas. Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif, sebab menggambarkan bagaimana suatu teknik pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil yang diinginkan dapat dicapai.
Dalam penelitian tindakan ini guru bertindak sebagai peneliti, penanggung jawab penuh penelitian tindakan. Tujuan utama dari penelitian tindakan ini adalah meningkatkan hasil pembelajaran di kelas dimana guru secara penuh terlibat dalam penelitian mulai dari perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi.
Penelitian ini dilaksanakan selama 1 bulan mulai Tanggal Senin, 1 Nopember sampai dengan Rabu, 4 Desember 2013. Pada semester ganjil tahun pelajaran 2013/2014. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas XII IPA 3 semester ganjil MAN Jombang Tahun Pelajaran 2013/2014 yang berjumlah 32 siswa yaitu 9 laki-laki dan 23 perempuan.
Sesuai dengan jenis penelitian yang dipilih, yaitu penelitian tindakan, maka penelitian ini menggunakan model penelitian tindakan dari Kemmis dan Taggart  (1998) yaitu berbentuk spiral dari sklus yang satu ke siklus yang berikutnya. Setiap siklus meliputi planning (rencana), action (tindakan), observation (pengamatan), dan reflection (refleksi). Langkah pada siklus berikutnya adalah perencanaan yang sudah direvisi, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Sebelum masuk pada siklus 1 dilakukan tindakan pendahuluan yang berupa identifikasi permasalahan.
Penggunaan metode dan alat pengumpul data yang tepat memungkinkan diperolehnya data yang obyektif. Adapun data yang diperlukan dalam penelitian ini diperoleh melalui observasi, catatan lapangan dan portofolio .
1.  Observasi
Penilaian proses atau pengamatan langsung dalam setiap tatap muka waktu penyampaian   materi   untuk mengetahui   kesesuaian    antara      perencanaan dan pelaksanaan tindakan pembelajaran di kelas.
2.  Catatan Lapangan
Untuk memperoleh data secara obyektif  yang tidak tertekan dalam lembar observasi mengenai hal-hal yang terjadi. Selama proses pembuatan catatan lapangan bertujuan untuk melengkapi data hasil observasi, catatan lapangan ini dapat berupa perilaku siswa maupun permasalahan yang dapat dijadikan pertimbangan.
3.  Portofolio
Portofolio digunakan untuk merekam hasil kerja siswa pada setiap pertemuan dalam pembelajaran writing. Hasil kerja siswa pada setiap pertemuan dikumpulkan pada akhir pertemuan sedangkan hasil akhir tulisan dikumpulkan setelah langkah-langkah dalam satu siklus selesai. Portofolio siswa terdiri dari 3 lembar kerja.
Untuk mengetahui keefektifan suatu metode dalam kegiatan pembelajaran perlu diadakan analisa data. Pada penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang bersifat menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui prestasi belajar yang dicapai siswa juga untuk memperoleh respon siswa terhadap kegiata pembelajaran serta aktivitas siswa selama proses pembelajaran.
Untuk menganalisis tingkat keberhasilan atau persentase keberhasilan siswa setelah proses belajar mengajar setiap putarannya dilakukan dengan cara memberikan evaluasi pada hasil tulisan siswa selama proses menulis. Analisis ini dihitung dengan menggunakan statistik sederhana berdasarkan rubrik penilaian yang telah disusun.
Adapun indikator kinerja yang telah ditentukan penulis dalam penelitian ini meliputi : (1) keaktifan siswa mencapai minimal kriteria baik, (2)secara individu siswa mencapai nilai minimal 80 sebagaimana KKM, (3) secara klasikal 85 % siswa mencapai nilai minimal 80 sesuai dengan KKM yang ditentukan di MAN Jombang.
D.    Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil observasi tentang keaktifan siswa selama proses KBM pada siklus I mencapai skor 72,37 dengan kriteria baik. Pada siklus II sudah mencapai skor 78,95 dengan kriteria sangat baik. Sebagaimana indikator kinerja dapat disimpulkan bahwa keaktifan siswa telah memenuhi indikator yang ada.
Adapun perolehan hasil belajar siswa pada siklus I telah mencapai rata-rata kelas 80.99 dan siswa yang telah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal sebanyak 18 siswa atau 56.3% dan sisanya sebanyak 14 siswa atau 43.7% belum tuntas. Pada siklus II perolehan hasil belajar siswa telah terjadi peningkatan. Nilai rata-rata kelas dalam siklus II ini 83.46. Sedangkan siswa yang telah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal sebanyak 28 siswa atau 87.5% dan sisanya sebanyak 4 siswa atau 12.5% belum tuntas.
E.     Pembahasan Penelitian
1.     Pengelolaan Kelas Oleh guru
Sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran yang tertera dalam RPP  siklus II diketahui bahwa pemanfaatan media sosial facebook dalam pembelajaran menulis dengan pendekatan proses meliputi:
Pre-writing
1.     Beberapa hari sebelum pembelajaran writing, guru menuliskan topic diskusi didinding group facebook kelas atau group yang dibuat khusus oleh guru.
2.     Guru meminta semua siswa kelas itu bergabung digroup
3.     Guru meminta siswa memberikan komentar dan batas waktunya ditentukan.
4.     Pada waktu pembelajaran menulis guru meminta siswa mengelompokkan komentar siswa kedalam kelompok pro dan kontra
5. Siswa diminta memilih beberapa alasan yang paling sesuai dan mengeliminasi/menghilangkan yang tidak perlu.
6.     Guru mengajarkan cara membuat judul tulisan, menyusun paragraf pembuka, dan paragraf penutup,
7.     Guru mengajarkan cara menghubungkan paragraf yang kontras/berlawanan dengan kata penghubung on the other hand, however, on the contrary, in contrast dll.
Drafting
8.     Guru meminta masing-masing siswa membuat judul tulisan
9.     Guru meminta masing-masing siswa membuat paragraf pembuka dari topic yang dibahas pada pertemuan sebelumnya.
10.  Siswa menyusun kembali pendapat yang pro dan kontra dalam bentuk paragraf dengan memperhatikan kata penghubung antar paragraf, tata bahasa, dan ejaan kata.
11.  Guru meminta masing-masing siswa membuat paragraf penutup dari topic yang dibahas.
Revising
12.  Guru membagi panduan mengoreksi tulisan temannya kepada masing-masing siswa dan menjelaskan cara mengoreksinya.
13.  Guru meminta siswa menukarkan hasil tulisannya dengan teman nya untuk dikoreksi.
14.  Guru meminta masing-masing siswa memberikan feedback tulisan temannya berdasarkan panduan yang mereka pegang.
15.  Setelah selesai mengkoreksi dan memberikan feedback hasil kerja siswa dikembalikan kepemiliknya beserta lembar panduan.
Editing
16.   Guru meminta siswa memperbaiki draft awal tulisan mereka dengan memperhatikan feedback dari temannya.
17.  Dalam memperbaiki draft awal tulisan siswa juga diminta memperhatikan tata bahasa, spelling, dan tanda baca.
18.  Guru meminta masing-msing siswa membaca sekali lagi tulisan mereka dengan seksama dan memperbaikinya jika dirasa perlu.
Publishing
19.  Guru meminta siswa mengumpulkan hasil tulisannya.
20.  Guru meminta salah satu siswa membaca tulisannya didepan kelas dengan suara lantang.
2.     Keaktifan Siswa Dalam Proses Pembelajaran
Adapun hasil analisa data observasi diketahui bahwa keaktifan siswa dalam proses pembelajaran menulis pada siklus I sudah mencapai kriteria baik yakni mencapai skor 72,37. Sedangkan pada siklus II sudah mencapai kriteria sangat baik yakni mencapai skor 78,95 maka sebagaimana capaian skor tersebut diketahui bahwa keaktifan siswa dalam proses pembelajaran terjadi peningkatan pada siklus II sebesar 6,59. Hal ini bisa digambarkan pada grafik sebagai berikut :
Grafik 1 : Grafik hasil analisa keaktifan siswa selama KBM
3.     Hasil belajar siswa.
Sebagaimana paparan data hasil belajar siswa pada siklus I diketahui rata-rata kelas dalam siklus I ini 80.99. Adapun siswa yang telah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal sebanyak 18 siswa atau 56.3% dan sisanya sebanyak 14 siswa atau 43.7% belum tuntas. Sedangkan pada siklus II nilai rata-rata kelas 83.46 dan siswa yang telah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal sebanyak 28 siswa atau 87.5% dan sisanya sebanyak 4 siswa atau 12.5% belum tuntas.
Dari data diatas bisa disimpulkan bahwa rata-rata kelas mengalami kenaikan sebesar hasil belajar 2.47 poin. Adapun ketuntatasan siswa pada siklus II mengalami peningkatan  sebesar 31,2 % . Hal ini bisa digambarkan dengan grafik berikut ini:
Grafik 2: Grafik perolehan rata-rata kelas dan ketuntasan siswa

 
  
F.     Simpulan dan Saran
1.  Simpulan
Berdasarkan paparan yang telah diuraikan diatas dapat diberikan beberapa simpulan, sebagai berikut :
1.  Pembelajaran menulis dengan memanfaatkan media sosial facebook sebagai sarana pembelajaran dapat membantu guru dalam menyelesaikan masalah pengajaran menulis.
2.  Pembelajaran menulis seharusnya menggunakan pendekatan proses dengan 5 tahapan; Pre-Writing, Drafting, Revising, Editing, dan Publishing dengan memperhatikan langkah-langkah berikut:
Pre-writing
-       Beberapa hari sebelum pembelajaran writing, guru menuliskan topic diskusi di dinding group facebook kelas atau group yang dibuat khusus oleh guru.
-       Guru meminta semua siswa kelas itu bergabung digroup
-       Guru meminta siswa memberikan komentar dan batas waktunya ditentukan.
-       Pada waktu pembelajaran menulis guru meminta siswa mengelompokkan komentar siswa kedalam kelompok pro dan kontra
-       Siswa diminta memilih beberapa alasan yang paling sesuai dan mengeliminasi/ menghilangkan yang tidak perlu.
-       Guru mengajarkan cara membuat judul tulisan, menyusun paragraf pembuka, dan paragraf penutup,
-       Guru mengajarkan cara menghubungkan paragraf yang kontras/berlawanan dengan kata penghubung on the other hand, however, on the contrary, in contrast dll.
Drafting
-       Guru meminta masing-masing siswa membuat judul tulisan
-       Guru meminta masing-masing siswa membuat paragraf pembuka dari topic yang dibahas pada pertemuan sebelumnya.
-       Siswa menyusun kembali pendapat yang pro dan kontra dalam bentuk paragraf dengan memperhatikan kata penghubung antar paragraf, tata bahasa, dan ejaan kata.
-       Guru meminta masing-masing siswa membuat paragraf penutup dari topic yang dibahas.
Revising
-       Guru membagi panduan mengoreksi tulisan temannya kepada masing-masing siswa dan menjelaskan cara mengoreksinya.
-       Guru meminta siswa menukarkan hasil tulisannya dengan teman nya untuk dikoreksi.
- Guru meminta masing-masing siswa memberikan feedback tulisan temannya berdasarkan panduan yang mereka pegang.
-      Setelah selesai mengkoreksi dan memberikan feedback hasil kerja siswa dikembalikan kepemiliknya beserta lembar panduan.
Editing
-   Guru meminta siswa memperbaiki draft awal tulisan mereka dengan memperhatikan feedback dari temannya.
-       Dalam memperbaiki draft awal tulisan siswa juga diminta memperhatikan tata bahasa, spelling, dan tanda baca.
-  Guru meminta masing-msing siswa membaca sekali lagi tulisan mereka dengan seksama dan memperbaikinya jika dirasa perlu.
Publishing
-       Guru meminta siswa mengumpulkan hasil tulisannya.
-  Guru meminta salah satu siswa membaca tulisannya didepan kelas dengan suara lantang.
3.     Pembelajaran menulis dengan memanfaatkan facebook sebagai media pembelajaran dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam proses kegiatan pembelajaran.
4.     Pemanfaatan media facebook dalam pembelajaran menulis dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam ketrampilan menulis jenis teks discussion.
2.  Saran.
Berdasarkan kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini peneliti menyarankan untuk meningkatkan kemampuan pembelajaran menulis teks jenis discussion untuk kelas XII guru dapat memanfaatkan media sosial facebook karena hampir semua siswa sudah mempunyai akun facebook dan masing-masing kelas biasanya sudah mempunyai group facebook.

Daftar Pustaka
Alwasilah, A. Chaedar. 2000. Perspektif Pendidikan Bahasa Inggris di Indonesia dalam Konteks Persaingan Global. Bandung: Andira.
Byrne, D. 1984. Teaching Writing Skill. London: Longman Group UK Limited Company.
Cox, C. 1999. Teaching Language Arts: A Student-and Response-Centered Classroom. Third Edition. Boston: Allyn and Bacon.
Depdiknas. 2006. Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan Tingkat Sekolah Menengah Atas dan Madrasah Aliyah. Peraturan Mendiknas No. 22, No. 23, dan No. 24 Tahun 2006 (Edisi Lengkap). Jakarta: PT. Binatama Raya.
Duin, Ann Hill. 1986.  "Implementing Cooperative Learning Groups in the Writing Curriculum." Journal of Teaching Writing 5: 315-24.
Ferris, D. 2002. Teaching Students to Self-Edit. In J. C. Richards, & W. A. Renandya (Eds.), Methodology in Language Teaching: An Anthology of Current Practice (pp. 328-334). Cambridge: Cambridge University Press.
Gardner, P. S. 2005. New Directions: Reading, Writing, and Critical thinking. Second Edition. Cambridge: Cambridge University Press.
Gebhard, G. J. 1996. Teaching English as a Foreign or Secong Language: A Teacher Self-Development and Methodology Guide. Michigan: The University of Michigan Press.
Harmer, J. 2004. How to Teach Writing. Essex: Pearson Education.
Kaplan, Andreas, & Haenlein,Michael in www.iaee.com/resources/social_media_resources  diakses 2 Nopember 2013
Kemmis, S., & McTaggart, R. 1988. The Action Research Planner. Deakin: Deakin University Press.
Roe, B. D., Stoodt, B. D., & Burns, P. C. 1995. The Content Areas: Secondary Reading Instruction. Fifth Edition. Boston: Houghton Mifflin Company.
Seow, A. 2002. The Writing Process and Process Writing. In J. C. Richards, & W. A. Renandya (Eds.), Methodology in Language Teaching: An Anthology of Current Practice (pp. 315-320). Cambridge: Cambridge University Press.
Sharples, M. 1999. How We Write: Writing as Creative Design. London and New York: Routledge, Taylor & Francis Group.
Sindang, Ennoch. 2013. Manfaat Media Sosial Dalam Ranah Pendidikan dan Pelatihan. Jakarta: Pusdiklat KNPK
Smalley, R. L., Reutten, M. K., & Kozyrev, O. R. 2001. Refining Composition Skills: Rhetoric and Grammar. Fifth Edition. Boston: Heinle & Heinle Publishers
Stone, J. M. 1990. Cooperative Learning and Language Arts: A Multi-Structural Approach. California: Resources for Teachers.
Tribble, C. 1996. Writing. Oxford. Oxford University Press.
Ur, Penny. 1996. A Course in Language Teaching: Practice and Theory. Cambridge: Cambridge University Press.

0 komentar:

Poskan Komentar