Adsense

Pages

Bagaimana Mengembangkan Metakognitif Dalam Proses Pembelajaran

syamsul ma'arif Selasa, April 24, 2018 |

            
           Guru profesional berarti guru yang menguasai  ilmu pengetahuan yang diajarkannya atau materi pelajaran.  Persyaratan menguasai ilmu mutlak untuk semua guru, baik yang berpengalaman maupun yang belum berpengalaman. Tak ada pemakluman bagi guru yang baru sekali pun dalam penguasaan pengetahuan sekurang-kurangnya harus menguasai sampai level mampu menjelaskan.
           Kemampuan lebih tinggi dari itu jika guru mampu memperediksi terhadap dampak perlakuan tiap tindakan terhadap perbaikan sikap, keterampilan, dan pengetahuan siswa. Puncak kepiawaian penguasaan ilmu jika mampu mengotrol setiap tindakannya sehingga mengetahui benar pengaruhnya terhadap siswa. Krathwoll  (2002) menyatakan bahwa  penguasaan pengetahuan meliputi  penguasaan fakta, konsep, prosedur, dan metakognitif. Dalam tulisan kali ini akan saya uraikan tentang metakognitif (metacognitive)
Apa itu metakognitif? Sering sekali guru masih kebingungan dalam memahami apa itu metakognitif dan bagaimana pengembangannya dalam pembelajaran dikelas.  berikut ini penjelasan singkat tentang definisi, komponen, dan pengembangan metakognitif dalam pembelajaran.

1.    Definisi Metakognitif (Metacognitive):
Berdasarkan beberapa definisi yang ditemukakan dapat diidentifikasi pokok-pokok pengertian tentang metakognitif sebagai berikut.
Ø   Metakognitif merupakan kemampuan jiwa yang termasuk dalam kelompok kognisi.
Ø  Metakognitif merupakan kemampuan untuk menyadari, mengetahui, proses kognisi yang terjadi pada diri sendiri.
Ø  Metakognitif merupakan kemampuan untuk mengarahkan proses kognisi yang terjadi pada diri sendiri.
Ø  Metakognitif merupakan kemampuan belajar bagaimana mestinya belajar dilakukan yang meliputi proses perencanaan, pemantauan, dan evaluasi.
Ø  Metakognitif merupakan aktivitas berpikir tingkat tinggi. Dikatakan demikian karena aktivitas ini mampu mengontrol proses berpikir yang sedang berlangsung pada diri sendiri.

2.    Komponen Metakognitif
        1. Pengetahuan tentang kognitif (knowledge about cognition)  
Pengetahuan metakognitif terdiri dari sub kemampuan-sub kemampuan sebagai berikut :
a) declarative knowledge : Pengetahuan tentang diri sendiri sebagai pembelajar serta strategi, keterampilan, dan sumber-sumber belajar yang dibutuhkannya untuk keperluan belajar
b) procedural knowledge : Pengetahuan tentang bagaimana menggunakan apa saja yang telah diketahui dalam declarativeknowledge tersebut dalam aktivitas belajarnya
c) conditional knowledge: Pengetahuan tentang bilamana menggunakan suatu prosedur, keterampilan, atau strategi dan bilamana hal-hal tersebut tidak digunakan, mengapa suatu prosedur berlangsung dan dalam kondisi yang bagaimana berlangsungnya, dan mengapa suatu prosedur lebih baik dari pada prosedur-prosedur yang lain
2. Regulasi tentang kognitif (regulation about cognition)
                Regulasi metakognitif terdiri dari sub kemampuan-sub kemampuan sebagai berikut:
 a) planning: kemampuan merencanakan aktivitas belajarnya
 b) information management strategies: kemampuan strategi mengelola informasi berkenaan dengan proses belajar yang dilakukan
 c) comprehension monitoring: merupakan kemampuan dalam memonitor proses belajarnya dan hal-hal yang berhubungan dengan proses tersebut
 d) debugging strategies: strategi yang digunakan untuk membetulkan tindakan-tindakan yang salah dalam belajar
 e) evaluation : kemampuan mengevaluasi efektivits strategi belajarnya, apakah ia akan mengubah strateginya, menyerah pada keadaan, atau mengakhiri kegiatan tersebut

3.    Pengembangan Metakognitif Peserta Didik Dalam Pembelajaran
Mengingat pentingnya peranan metakognitif dalam keberhasilan belajar, maka upaya untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik dapat dilakukan dengan meningkatkan metakognitif mereka. Mengembangkan metakognitif pembelajar berarti membangun fondasi untuk belajar secara aktif. Strategi yang dapat dilakukan guru dalam mengembangkan metakognitif peserta didik melalalui kegiatan belajar dan pembelajaran adalah sebagai berikut (Taccasu Project, 2008).
1) Membantu peserta didik dalam mengembangkan strategi belajar dengan:
a) Mendorong pembelajar untuk memonitor proses belajar dan berpikirnya.
b) Membimbing pembelajar dalam mengembangkan strategi-strategi belajar yang efektif.
c) Meminta pembelajar untuk membuat prediksi tentang informasi yang akan muncul atau disajikan berikutnya berdasarkan apa yang mereka telah baca atau pelejari.
d) Membimbing pembelajar untuk mengembangkan kebiasaan bertanya.
e) Menunjukkan kepada pembelajar bagaimana teknik mentransfer pengetahuan, sikap-sikap, nilai-nilai, keterampilan-keterampilan dari suatu situasi ke situasi yang lain.
2) Membimbing pembelajar dalam mengembangkan kebiasaan peserta didik yang baik melalui :
a) Pengembangan kebiasaan mengelola diri sendiri
Pengembangan kebiasaan mengelola diri sendiri dapat dilakukan dengan : (1) mengidentifikasi gaya belajar yang paling cocok untuk diri sendiri (visual, auditif, kinestetik, deduktif, atau induktif); (2)memonitor dan meningkatkan kemampuan belajar (membaca, menulis, mendengarkan, mengelola waktu, dan memecahkan masalah); (3) memanfaatkan lingkungan belajar secara variatif (di kelas dengan ceramah, diskusi, penugasa, praktik di laboratorium, belajar kelompok, dst).
b) Mengembangkan kebiasaan untuk berpikir positif
Kebiasaan berpikir positif dikembangkan dengan : (1) meningkatkan rasa percaya diri (self-confidence) dan rasa harga diri (self-esteem) dan (2) mengidentifikasi tujuan belajar dan menikmati aktivitas belajar.
c) Mengembangkan kebiasaan untuk berpikir secara hirarkhis
Kebiasaan untuk berpikir secara hirarkhis dikembangkan dengan : (1) membuat keputusan dan memecahkan masalah dan (2) memadukan dan menciptakan hubungan-hubungan konsep-konsep yang baru.
d) Mengembangkan kebiasaan untuk bertanya
Kebiasaan bertanya dikembangkan dengan : (1) mengidentifikasi ide-ide atau konsep-konsep utama dan bukti-bukti pendukung; (2) membangkitkan minat dan motivasi; dan (3) memusatkan perhatian dan daya ingat.
Demikian tulisan singkat tentang metakognitif yang diambil dari beberapa sumber dan buku.Semoga dapat membantu guru dalam mengembangkan metakognitif peserta didik dan dapat direncanakan dengan baik dalam Rencana Pembelajaran yang disusun.

Referensi;
1. Krathwohl, D. R. (2002). A revision of Bloom's taxonomy: An overview. Theory into practice
2. http://www.hku.hk/cepc/taccasu/ref/metacognition.html. diakses tanggal 23 April 2018






Read More