Pages

Contextual Teaching and Learning (CTL): Karakteristik dan Implementasinya pada Pembelajaran Bahasa Inggris

syamsul ma'arif Minggu, Maret 13, 2011 | , ,


LATAR BELAKANG
Sejak pertama kali disebarluaskan, CTL dianggap sebagai pendekatan pembelajaran yang paling sesuai dengan kebutuhan untuk membelajarkan siswa sebagai subjek didik yang aktif membangun sendiri pengetahuannya. Ciri khas pembelajaran dengan pendekatan CTL adalah keharusan memberdayakan siswa untuk aktif berpikir dan membangun konsepnya sendiri tentang pengetahuan yang sedang dipelajarinya. Dengan demikian peran guru bukan sebagai “penceramah” atau pengabar suatu informasi agar didengarkan siswa dan dimengerti seperti yang terjadi pada proses pembelajaran tradisional, melainkan ia sebagai fasilitator dalam proses belajar siswa. Bahkan kadang-kadang guru dan siswa bersama-sama mempelajari hal baru dalam suatu interaksi yang kondusif untuk mencari jawaban atas suatu fenomena dan membangun konsep pemahaman atas fenomena tersebut.
            Perbedaan pokok CTL dengan pengajaran tradisional adalah bahwa CTL menekankan terwujudnya lingkungan pembelajaran yang mendukung terciptanya multiperspektif dari suatu realita, terdorongnya upaya menyusun pengetahuan, dan pemberian kesempatan kepada siswa untuk menyusun pengetahuannya itu dalam aktivitas yang berdasarkan pengalaman nyata dan kaya konteks (Jonasen, 1991). Ciri khas proses pembelajaran seperti ini merupakan manifestasi dari aliran konstruktivisme. Sedangkan pembelajaran tradisional dapat dikatakan lebih cenderung menerapkan behaviorisme.
            Secara pedagogis, pendidikan dapat dikategorikan menjadi dua kelompok aliran, yaitu objectivisme dan konstruktivisme (Zahorik, 1995). Para pendukung objektivisme berpendapat  bahwa pengetahuan berada di luar diri pembelajar dan oleh karena itu, tugas guru adalah menghadirkan pengetahuan itu dengan ceramah. Siswa harus hafal informasi itu dengan mengulang informasi factual yang diberikan oleh guru. Untuk mengetahui apakah siswa telah “belajar”, guru menyuruh siswa untuk mengulang informasi tersebut sebagai prosedur evaluasi. Sedangkan model konstruktivisme berbeda dalam banyak hal karena model ini mengharuskan siswa aktif berpikir dan membangun pengetahuan dan konsepnya sendiri.

KARAKTERISTIK UMUM CTL
            Istilah karakteristik CTL di sini mengacu pada cirri-ciri khas yang membedakannya dengan pembelajaran tradisional. Sebagian ahli menyebutnya elemen-elemen CTL. Perbedaan utama yang tampak antara CTL dengan pembelajaran tradisional adalah adanya keterkaitan antara topik atau pokok bahasan di kelas dengan kehidupan nyata (kontekstual). Siswa dikondisi untuk memecahkan masalah dalam dunia nyata dengan menggunakan pengetahuan yang telah dibangun tersebut.
            Dalam pembelajaran Bahasa Inggris di SLTP, topik harus selalu hadir dalam konteks yang sesuai dengan dunia remaja dengan segala aspeknya. Untuk mengetahui apakah suatu kegiatan kelas dapat dikatakan telah menerapkan pendekatan  CTL  tidaklah sulit karena dapat ditengarai dari adanya elemen-elemen CTL yang tampak dalam kegiatan kelas. Berikut ini tujuh elemen CTL yang diperkenalkan oleh Hanley (1994).

  1. Inquiry
Inquiry adalah siklus proses  dalam membangun pengetahuan/konsep yang bermula dari observasi, bertanya, investigasi, analisis, kemudian membangun teori.
  1. Questioning
 Questioning adalah kegiatan bertanya yang dilakukan baik oleh guru maupun oleh siswa. Pertanyaan guru digunakan untuk mengarahkan, membimbing, dan mengevaluasi cara berpikir siswa. Sedangkan pertanyaan siswa yang digunakan selama belajar merupakan wujud keingintahuan mereka terhadap suatu hal. Kegiatan yang menuntut siswa untuk bertanya disebut inquiry-based activities, yaitu kegiatan yang dilakukan berdasarkan pertanyaan siswa.
  1. Constructivism
Constructivism merupakan suatu aliran pembelajaran yang menuntut siswa untuk menyusun dan membangun makna atas pengalaman baru yang didasarkan pada pengetahuan terdahulu.
  1. Learning Community
Learning Community berupa kelompok belajar atau sekelompok komunitas yang berfungsi sebagai wadah komunikasi untuk berbagi pengalaman dan gagasan.
  1. Authentic Assessment
Authentic assessment merupakan alternatif prosedur penilaian yang menuntut siswa untuk benar-benar menunjukkan kemampuannya secara nyata (kegiatan yang menuntut siswa untuk menerapkan pengetahuannya dalam performansi yang dapat diamati)
  1. Modeling
Kegiatan modeling adalah kegiatan mendemonstrasikan suatu perbuatan agar siswa dapat mencontoh atau belajar, atau melakukan sesuatu sesuai dengan model yang diberikan.
  1. Reflection
Reflection menuntut siswa untuk melihat kembali atau merespon suatu kejadian, kegiatan dan pengalaman yang bertujuan untuk mengidentifikasi hal-hal yang sudah diketahui, dan yang belum diketahui agar dapat dilakukan suau tindakan penyempurnaan/perbaikan.

            Dalam pelaksanaan, tidak berarti seluruh elemen itu harus hadir, melainkan sesuai dengan kebutuhan pada saat itu. Gabungan beberapa elemen yang diperlukan untuk membelajarkan siswa dipilih dan disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dalam Lesson Plan.


IMPLEMENTASI CTL DI KELAS
            Sebelum mengimplimentasikan CTL di kelas Bahasa Inggris SLTP, guru harus memahami hakikat CTL secara umum dan memahami karakteristik mata pelajaran Bahasa Inggris sebagai bahasa asing yang diberikan di SLTP. Yang perlu diingat adalah bahwa Bahasa Inggris harus dipandang dari fungsinya sebagai alat komunikasi  (Saleh dan Widiantoro, 2003). Pemahaman ini akan membantu guru menyadari sejak awal bahwa belajar Bahasa Inggris bukan untuk mengetahui komponen-komponen bahasa inggris saja, melainkan mencakup pula bagaimana menggunakannya dalam kegiatan komunikasi.
Dalam KBK 2002, tujuan pelajaran Bahasa Inggris adalah untuk mengembangkan keterampilan berbahasa siswa yang mencakup Listening, Speaking, Reading, dan Writing. Oleh karenanya pelajaran tatabahasa merupakan unsur pembantu dalam penguasaan keterampilan berbahasa tersebut. Bahasan tatabahasa diberikan dalam rangka memfasilitasi penguasaan keempat keterampilan tersebut. Demikian juga dengan pelajaran vocabulary dan pronunciation yang ditekankan pada memanfaatkan penguasaan kosa kata dalam kegiatan komunikasi, baik lisan maupun tulis. Pronunciation juga perlu diajarkan setiap kali pengenalan kosa kata baru. Penguasaan pelafalan kosakata perlu dikembangkan agar tidak terjadi miskomunikasi dalam kegiatan berbahasa lisan yang disebabkan oleh salah pelafalan.
Setelah memahami karakteristik bahasa Inggris dan karakteristik CTL, guru memilih kegiatan yang sesuai dengan tujuan KBK dan sesuai dengan kegiatan berbahasa dalam konteks kehidupan nyata. Berikut ini contoh penerapan pendekatan CTL oleh guru setelah ia mencermati KBK (2002).

Cuplikan KBK Kelas 3, Semester II
Kompetensi Dasar
Hasil Belajar
Indikator
MENULIS
Menulis paragraph sederhana + 10 baris sesuai dg tema
Menuliskan deskripsi suatu objek berkaitan dengan tema
Menulis deskripsi suatu objek yang menarik dalam suatu paragraph + 10 baris berdasarkan situasi yang tersedia

Untuk membuat Lesson Plan dengan kegiatan kelas yang sesuai dengan CTL, guru masih harus berpikir terlebih dahulu tentang prinsip pengajaran bahasa Inggris sebagai alat untuk berkomunikasi, yaitu mempertimbangkan konteks dalam kehidupan nyata. Menulis adalah berkomunikasi dengan orang lain. Oleh sebab itu guru harus menciptakan konteks  atau “situasi imaginer” (imaginery  situation) dengan menentukan langkah-langkah sebagai berikut.

  1. Menenentukan jenis tulisan siswa, apakah berbentuk surat, atau deskripsi yang mendampingi sebuah gambar poster untuk promosi wisata.
  2. Tentukan audience, yaitu kepada siapa tulisan itu ditujukan, misalnya kepada sesama siswa, guru, atau sahabat pena, dll.
  3. Setelah topik jelas, situasi jelas, dan audience juga jelas, barulah guru memerintahkan siswanya untuk menulis.
  4. Gaya bahasa tergantung pada konteks yang dipilih.
  5. Memilih teknik pembelajaran di kelas yang sesuai

Apabila telah ditentukan bahwa siswa ditugasi menulis surat kepada sahabat pena yang belum pernah berkunjung ke objek wisata (tempat yang dideskripsikan tersebut) di Indonesia, misalnya, berarti ragam bahasa yang digunakan dalam diskripsi tersebut adalah ragam informal (boleh ada singkatan-singkatan serta bentuk bahasa lisan yang ditulis, mis. Hi, how’re you Melisa). Dalam surat seharusnya memuat ajakan untuk berkunjung ke tempat tersebut. Bagian-bagian tertentu dari surat dapat diberikan guru sebagai upaya untuk membantu keutuhan komponen sebuah surat. Sedangkan deskripsinya diserahkan kepada siswa.
      Begitulah salah satu alternatif kegiatan di kelas yang menuntut kreativitas guru dalam menentukan konteks yang benar-benar ada dalam kehidupan nyata. Jadi mengaitkan kegiatan kelas dalam kehidupan nyata merupakan tugas guru apabila dalam buku teks belum disebutkan dengan jelas konteksnya.
      Menyangkut teknik pelaksanaan di kelas, guru memilih elemen mana yang diinginkan atau yang feasible dilaksanakan di kelasnya. Misalnya, guru dalam menentukan pilihan group writing atau individual writing harus disertai pertimbangan apakah pilihan tersebut sesuai dengan kondisi dan situasi kelasnya. Kemudian kalau misalnya yang dipilih adalah individual writing, kegiatan bisa saja diawali dengan diskusi kelompok untuk menjaring informasi tentang hal-hal apa saja yang akan dideskripsikan. Selanjutnya siswa disuruh menulis surat secara individu.
      Demikianlah salah satu contoh pemilihan kegiatan kelas dengan pendekatan CTL yang berangkat dari KBK dan mempertimbangkan tema/topik yang sedang diberikan. Untuk mengembangkan kegiatan keterampilan berbahasa lainnya, kreativitas guru sangat menentukan sesuai dan tidaknya kegiatan tersebut.
Kegiatan kelas yang dikaitkan dengan kehidupan nyata ini disebut authentic task karena kata authentic di sini mengacu pada penggunaan bahasa Inggris yang sebenarnya digunakan dalam komunitas berbahasa Inggris (Ellis, 1997). Sedangkan seringkali kegiatan kelas tradisional di SLTP memberikan artifial tasks atau mechanical tasks .Dalam bahasan analisis wacana kegiatan tersebut digolongkan dalam context-free language activities (Cook, 1989) karena bahasa yang dibuat siswa tidak dikaitkan dengan konteks yang jelas, tetapi hanya menitik beratkan pada kemampuan membuat kalimat dengan benar.

KESIMPULAN
      CTL sebagai pendekatan pembelajaran yang relatif dianggap “baru” merupakan alternatif yang baik untuk pembelajaran Bahasa Inggris di SLTP.berdasarkan beberapa alasan keunggulannya. Pertama, adanya keharusan untuk mengaitkan keterampilan berbahasa dengan penggunaannya dalam kehidupan nyata (authentic tasks) dapat membuat siswa terampil berbahasa Inggris dalam peristiwa komunikasi nyata. Kedua, elemen-elemen CTL yang mendorong siswa berpikir aktif dapat membiasakan siswa mampu melakukan problem solving dan bertanggung jawab atas proses belajarnya sendiri untuk mencapai keberhasilan. Ketiga, Authentic assessment dapat digunakan sebagai pelengkap dalam proses evaluasi hasil belajar siswa yang selama ini hanya didasarkan pada hasil tes formal saja. Dengan demikian baik proses pembelajaran maupun hasil belajar Bahasa Inggris dapat dilakukan dengan lebih baik. 

DAFTAR  PUSTAKA

Cook, Guy. 1989. Discourse. Oxford: Oxford University Press

Ellis, Rod. 1997. SLA Research and Language Teaching: Oxford: Oxford University Press.

Hanley, Susan, 1994. On Constructivism. Maryland Collaborative for Teacher Preparation. http://www.towson.edu/csme/mctp/Essay/Constructivism.txt. Eccessed by C Stars College of Education, University of Washington.

Jonasen, David. 1991. Evaluating Constructivistic Learning. Accessed by C-Stars College of Education, University of Washington.

Saleh, Suhaini M dan Agus Widiantoro. 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. Pedoman Khusus. Pengembangan Silabus Berbasis Kemampuan Dasar Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. Jakarta: Departemen Pebdidikan Nasional

Zahorik, John A. 1995. Constructivistic Teaching. (Fastback 390) Bloomington, Indiana: Phi Delta Kappa Educational Foundation, C Sytars College of Education, University of Washington.

0 komentar:

Poskan Komentar