Adsense

Pages

Kepemimpinan Kepala Madrasah Pengaruhi Tingkat Keunggulan Madrasah

syamsul ma'arif Rabu, Desember 05, 2018 | , , ,


Jakarta, (NU Online), Hasil penelitian Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Balitbang dan Diklat Kemenag (2016) selain di MTsN Bukit Raya Pekanbaru, juga menemukan bahwa untuk menciptakan tata kelola yang efektif, kebijakan lainnya terkait usaha peningkatan mutu madrasah adalah kepemimpinan madrasah yang profesionl.
Lebih khusus lagi, aspek gaya kepemimpinan madrasah yang profesional, terbuka, dan agamis merupakan  faktor yang paling penting dalam  menentukan kemajuan di MTsN Bukit Raya Pekanbaru.
Terbukti dengan pola kepemimpinan  profesional, modern, dan agamis dapat  memengaruhi, mengkoordinasi, membimbing, dan mengarahkan serta mengawasi semua personalia dalam hal yang ada kaitannya dengan kegiatan yang dilaksanakan, sehingga dapat tercapai tujuan pendidikan yang efektif dan  efisien.
Pola pimpinan yang disebutkan di atas dapat dilihat dalam berbagai hal. Pertama, Kepala madrasah mampu mengomunikasikan nilai-nilai pendidikan terhadap staf pengajar, pelajar, dan masyarakat yang ada di sekitar madrasah.
Kedua, kepala madrasah mampu memahami, berkomunikasi, dan mendiskusikan proses yang berkembang dalam madrasah dengan tidak hanya duduk di belakang meja kerjanya.
Hal itu terlihat dalam pengambilan keputusan di MtsN Bukit Raya yang selalu melibatkan stakeholder atau semua pihak yang mempunyai peranan dalam kegiatan yang akan dilaksanakan. Dalam mengambil keputusan, kepala madrasah juga selalu melibatkan  siswa, orangtua murid, dan masyarakat.
Ketiga, kepala madrasah  mampu menumbuhkan rasa kebersamaan, keinginan, semangat dan potensi dari semua guru dan staf untuk mencapai tujuan dan kepemimpinan yang dilakukan dalam lingkungan madrasah cenderung terletak pada kekuatan nilai-nilai (keagamaan) yang menjadi pusat perhatian kepala madrasah.
Keempat, kepala madrasah secara transparan dan terbuka memaparkan penggunaan anggaran yang berhubungan dengan kegiatan- kegiatan madrasah.(Kendi Setiawan/Mukafi Niam)
Sumber: http://www.nu.or.id/post/read/73500/kepemimpinan-kepala-madrasah-pengaruhi-tingkat-keunggulan-madrasah

Read More

Bagaimana Mengembangkan Metakognitif Dalam Proses Pembelajaran

syamsul ma'arif Selasa, April 24, 2018 |

            
           Guru profesional berarti guru yang menguasai  ilmu pengetahuan yang diajarkannya atau materi pelajaran.  Persyaratan menguasai ilmu mutlak untuk semua guru, baik yang berpengalaman maupun yang belum berpengalaman. Tak ada pemakluman bagi guru yang baru sekali pun dalam penguasaan pengetahuan sekurang-kurangnya harus menguasai sampai level mampu menjelaskan.
           Kemampuan lebih tinggi dari itu jika guru mampu memperediksi terhadap dampak perlakuan tiap tindakan terhadap perbaikan sikap, keterampilan, dan pengetahuan siswa. Puncak kepiawaian penguasaan ilmu jika mampu mengotrol setiap tindakannya sehingga mengetahui benar pengaruhnya terhadap siswa. Krathwoll  (2002) menyatakan bahwa  penguasaan pengetahuan meliputi  penguasaan fakta, konsep, prosedur, dan metakognitif. Dalam tulisan kali ini akan saya uraikan tentang metakognitif (metacognitive)
Apa itu metakognitif? Sering sekali guru masih kebingungan dalam memahami apa itu metakognitif dan bagaimana pengembangannya dalam pembelajaran dikelas.  berikut ini penjelasan singkat tentang definisi, komponen, dan pengembangan metakognitif dalam pembelajaran.

1.    Definisi Metakognitif (Metacognitive):
Berdasarkan beberapa definisi yang ditemukakan dapat diidentifikasi pokok-pokok pengertian tentang metakognitif sebagai berikut.
Ø   Metakognitif merupakan kemampuan jiwa yang termasuk dalam kelompok kognisi.
Ø  Metakognitif merupakan kemampuan untuk menyadari, mengetahui, proses kognisi yang terjadi pada diri sendiri.
Ø  Metakognitif merupakan kemampuan untuk mengarahkan proses kognisi yang terjadi pada diri sendiri.
Ø  Metakognitif merupakan kemampuan belajar bagaimana mestinya belajar dilakukan yang meliputi proses perencanaan, pemantauan, dan evaluasi.
Ø  Metakognitif merupakan aktivitas berpikir tingkat tinggi. Dikatakan demikian karena aktivitas ini mampu mengontrol proses berpikir yang sedang berlangsung pada diri sendiri.

2.    Komponen Metakognitif
        1. Pengetahuan tentang kognitif (knowledge about cognition)  
Pengetahuan metakognitif terdiri dari sub kemampuan-sub kemampuan sebagai berikut :
a) declarative knowledge : Pengetahuan tentang diri sendiri sebagai pembelajar serta strategi, keterampilan, dan sumber-sumber belajar yang dibutuhkannya untuk keperluan belajar
b) procedural knowledge : Pengetahuan tentang bagaimana menggunakan apa saja yang telah diketahui dalam declarativeknowledge tersebut dalam aktivitas belajarnya
c) conditional knowledge: Pengetahuan tentang bilamana menggunakan suatu prosedur, keterampilan, atau strategi dan bilamana hal-hal tersebut tidak digunakan, mengapa suatu prosedur berlangsung dan dalam kondisi yang bagaimana berlangsungnya, dan mengapa suatu prosedur lebih baik dari pada prosedur-prosedur yang lain
2. Regulasi tentang kognitif (regulation about cognition)
                Regulasi metakognitif terdiri dari sub kemampuan-sub kemampuan sebagai berikut:
 a) planning: kemampuan merencanakan aktivitas belajarnya
 b) information management strategies: kemampuan strategi mengelola informasi berkenaan dengan proses belajar yang dilakukan
 c) comprehension monitoring: merupakan kemampuan dalam memonitor proses belajarnya dan hal-hal yang berhubungan dengan proses tersebut
 d) debugging strategies: strategi yang digunakan untuk membetulkan tindakan-tindakan yang salah dalam belajar
 e) evaluation : kemampuan mengevaluasi efektivits strategi belajarnya, apakah ia akan mengubah strateginya, menyerah pada keadaan, atau mengakhiri kegiatan tersebut

3.    Pengembangan Metakognitif Peserta Didik Dalam Pembelajaran
Mengingat pentingnya peranan metakognitif dalam keberhasilan belajar, maka upaya untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik dapat dilakukan dengan meningkatkan metakognitif mereka. Mengembangkan metakognitif pembelajar berarti membangun fondasi untuk belajar secara aktif. Strategi yang dapat dilakukan guru dalam mengembangkan metakognitif peserta didik melalalui kegiatan belajar dan pembelajaran adalah sebagai berikut (Taccasu Project, 2008).
1) Membantu peserta didik dalam mengembangkan strategi belajar dengan:
a) Mendorong pembelajar untuk memonitor proses belajar dan berpikirnya.
b) Membimbing pembelajar dalam mengembangkan strategi-strategi belajar yang efektif.
c) Meminta pembelajar untuk membuat prediksi tentang informasi yang akan muncul atau disajikan berikutnya berdasarkan apa yang mereka telah baca atau pelejari.
d) Membimbing pembelajar untuk mengembangkan kebiasaan bertanya.
e) Menunjukkan kepada pembelajar bagaimana teknik mentransfer pengetahuan, sikap-sikap, nilai-nilai, keterampilan-keterampilan dari suatu situasi ke situasi yang lain.
2) Membimbing pembelajar dalam mengembangkan kebiasaan peserta didik yang baik melalui :
a) Pengembangan kebiasaan mengelola diri sendiri
Pengembangan kebiasaan mengelola diri sendiri dapat dilakukan dengan : (1) mengidentifikasi gaya belajar yang paling cocok untuk diri sendiri (visual, auditif, kinestetik, deduktif, atau induktif); (2)memonitor dan meningkatkan kemampuan belajar (membaca, menulis, mendengarkan, mengelola waktu, dan memecahkan masalah); (3) memanfaatkan lingkungan belajar secara variatif (di kelas dengan ceramah, diskusi, penugasa, praktik di laboratorium, belajar kelompok, dst).
b) Mengembangkan kebiasaan untuk berpikir positif
Kebiasaan berpikir positif dikembangkan dengan : (1) meningkatkan rasa percaya diri (self-confidence) dan rasa harga diri (self-esteem) dan (2) mengidentifikasi tujuan belajar dan menikmati aktivitas belajar.
c) Mengembangkan kebiasaan untuk berpikir secara hirarkhis
Kebiasaan untuk berpikir secara hirarkhis dikembangkan dengan : (1) membuat keputusan dan memecahkan masalah dan (2) memadukan dan menciptakan hubungan-hubungan konsep-konsep yang baru.
d) Mengembangkan kebiasaan untuk bertanya
Kebiasaan bertanya dikembangkan dengan : (1) mengidentifikasi ide-ide atau konsep-konsep utama dan bukti-bukti pendukung; (2) membangkitkan minat dan motivasi; dan (3) memusatkan perhatian dan daya ingat.
Demikian tulisan singkat tentang metakognitif yang diambil dari beberapa sumber dan buku.Semoga dapat membantu guru dalam mengembangkan metakognitif peserta didik dan dapat direncanakan dengan baik dalam Rencana Pembelajaran yang disusun.

Referensi;
1. Krathwohl, D. R. (2002). A revision of Bloom's taxonomy: An overview. Theory into practice
2. http://www.hku.hk/cepc/taccasu/ref/metacognition.html. diakses tanggal 23 April 2018






Read More

The Differences Between "maybe", "perhaps", "possibly", and "probably"

syamsul ma'arif Sabtu, Januari 27, 2018 |

These are a few different ways to answer a question if you don't want to say "Yes" or "No":
Maybe.
Perhaps.
Probably.
Possibly.

So how are they different from each other?
Different meanings
First, you should know that there are three levels of possibility:
-            Use "probably" to say that something has a high chance of happening - 50% or greater.
-            Use "possibly" to say that something has a low chance of happening - 50% or less.
-            Use either "maybe" or "perhaps" to say that something has an equal chance of happening or not happening.

Levels of formality
What's the difference between "maybe" and "perhaps", then? The difference is in how formal they are.
a.        "Maybe" is more casual:
A: Are you going to Ezra's party?
B: Maybe. You?

b.        "Perhaps" is more formal:
A: Would it be possible to change my seat number?
B: Perhaps. Please hold while I check.

How to use them?
As mentioned above, you can use "maybe", "perhaps", "possibly", and "probably" to answer someone's question:
A: Do you think you'll get a chance to visit your cousin Ito while you're in town?
B: Maybe. It depends on how busy I end up being with work stuff.

You can also use these words before "a ___", "an ___", or "the ___":
-          That's probably a bad decision.
-          This is possibly the worst meal I've ever had.
-          I'm maybe an inch taller than him.

You can use some of these words between "could be", "might be", "may be", "should be", and so on:
-          This could possibly be the last time we ever see each other.

-          We should probably be thankful that it didn't turn out worse.
Read More