Adsense

Pages

Profesionalisme Kepemimpinan Kepala Madrasah Untuk Mewujudkan Madrasah Unggul

syamsul ma'arif Jumat, Februari 12, 2016 |



Oleh: Syamsul Ma’arif, S.Pd. M.Pd
Email: syamelmaarif@gmail.com          Web: www.syamedu.blogspot.co.id


Pendahuluan
Motto “Madrasah Lebih Baik Lebih Baik Madrasah” merupakan komitmen madrasah agar madrasah kedepan lebih berkualitas dalam keilmuan ataupun dalam bidang pendidikan di tengah-tengah masyarakat, apalagi pendidikan moral merupakan modal utama dalam rangka membangun bangsa dan negara yang tercinta ini. Motto ini bukanlah isapan jempol belaka. Dari tahun ke tahun banyak prestasi yang bisa ditorehkan oleh siswa-siswi madrasah baik tingkat nasional atau internasional. Disamping itu kepercayaan masyarakat terhadap pendidikan di madrasah juga semakin meningkat. Hal ini dapat dilihat dari jumlah peserta didik baik di tingkat MI, MTs, atau MA yang semakin bertambah. Kepercayaan masyarakat terhadap pendidikan di madrasah harus diimbangi pula dengan upaya peningkatan manajemen pendidikan di madrasah.  
Read More

Cara Menghitung Angka Kredit Bagi Guru Berdasarkan PERMENPAN & RB nomor 16 tahun 2009

syamsul ma'arif Selasa, Maret 12, 2013 |

A. Pendahuluan
Pada bab XIII pasal 46 Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya disebutkan bahwa : " Dengan berlakunya Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi ini, Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 84/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku". Masih pada peraturan ini pada pasal 47 disebutkan bahwa "Peraturan Menteri Negara dan Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan". Karena peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 ditetapkan pada tanggal 10 November 2009, berarti berdasarkan pasal 47 di atas pemberlakuan peraturan ini mulai tanggal yang disebutkan di atas. Disamping Peraturan Menteri di atas terdapat pula Peraturan Bersama Menteri Pendidikan Nasional dan Kepala Badan Kepagawaian Negara Nomor : 03/V/PB/2010 dan Nomor : 14 Tahun 2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Dalam peraturan bersama ini pada pasal 42 dikatakan bahwa : "Peraturan Bersama ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan dan berlaku efektif pada tanggal 1 Januari 2013". Berdasarkan dua peraturan di atas maka dapat kita pahami bahwa pelaksanaan penilaian Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya sudah bisa dilakukan sejak ditetapkannya kedua peraturan tersebut dalam arti penyesuaian-penyesuaian jabatan guru yang masih menggunakan peraturan lama (Permeneg PAN Nomor : 84 tahun 2003) dapat dilakukan sampai batas 31 Desember 2012. 

Read More

Using Presentation Software to Enhance Language Learning

syamsul ma'arif Selasa, Juli 24, 2012 | ,


Miriam Schcolnik
smiriam [at] post.tau.ac.il
Tel Aviv University (Israel)
Sara Kol
sarakol [at] post.tau.ac.il
Tel Aviv University (Israel)

In this paper we report on two uses of presentation software in our EFL courses: one as a tool for oral reporting and the other as a writing tool. In both cases students use the four language skills actively. They read source materials, discuss their ideas with their peers and teacher, write them and then share their writing with others. In both uses, students function as "doers and creators" and as such are motivated to invest time and energy into their tasks.
Computer applications are now being used in many school disciplines and changing teaching methodologies throughout the curriculum. We have been using computers in our EFL courses for many years and have employed a variety of computer applications and methodologies. We agree with Murphy-Judy (1997) that "the readers whom foreign language education produces now...should not be trained in defunct literacy practices, but rather should be prepared to function in this new world...Literacy, today, is increasingly electronic and telecommunicational."
Read More
syamsul ma'arif Kamis, Juli 12, 2012 | ,


Using Video in the EFL Classroom



This research project provides teachers of English as Foreign Language (EFL) with insights into developing materials and teaching methods that can be incorporated and thus practically implemented in their classrooms.  Emphasis will be on approaching the identity and culture of the native speakers of English through diverse authentic teaching materials.
Video has been proven to be an effective method in teaching English as a foreign/second language (EFL/ESL) for both young and adult learners.  Video can be used in a variety of instructional settings - in classrooms, on distance-learning sites where information is broadcast to learners who interact with the facilitator via video or computer, and in self-study and evaluation situations.  It can also be used in the teacher’s personal and professional development or with students as a way of presenting content, initiating conversations, and providing illustrations for various concepts.  Teachers and students can always create their own videotapes as content for the class or as a means to assess learners’ performance.
Read More

Using Creative Thinking to Find New Uses for Realia

syamsul ma'arif Kamis, Juli 12, 2012 | ,



The use of realia is well known to teachers. However, this article suggests different ways of using realia. By thinking creatively we can find new teaching uses for the everyday objects that surround us, by relating them to language and looking at them in new ways.
Introduction

We like using realia, i.e. objects in the class because it adds interest and relates language to the real world.  I have found my use of realia fall into three main areas, first for descriptions, and second as props in drama and another type of activity is a creative thinking exercise, finding different uses for an object, e.g.  a ruler could be a weapon, musical instrument, a symbol of authority and so on. However, there is another possibility suggested by this last use. If we ask our students to find other uses for everyday objects, why shouldn't teachers find uses for objects for teaching? This means making a connection between objects and language. Here are some ideas, looking at specific grammar points, drills, and free speaking.
Read More

The Use of Authentic Materials in EFL Classrooms

syamsul ma'arif Kamis, Juli 12, 2012 | ,

Introduction
The use of authentic materials in an EFL classroom is what many teachers involved in foreign language teaching have discussed in recent years. We have heard persuasive voices insisting that the English presented in the classroom should be authentic, not produced for instructional purposes. Generally, what this means is materials which involve language naturally occurring as communication in native-speaker contexts of use, or rather those selected contexts where standard English is the norm: real newspaper reports, for example, real magazine articles, real advertisements, cooking recipes, horoscopes, etc. Most of the teachers throughout the world agree that authentic texts or materials are beneficial to the language learning process, but what is less agreed is when authentic materials should be introduced and how they should be used in an EFL classroom.
Read More

BERPACU MENUJU SEKOLAH HIJAU

syamsul ma'arif Senin, Juni 18, 2012 | ,


Oleh: Soffa Ihsan

Pemerhati Pendidikan dan Direktur Lembaga Daulat Bangsa, Jakarta


Negeri kita saat ini agaknya mulai dipandang kurang nyaman. Dari tahun ke tahun, negeri kita kerap menuai bencana. Banjir bandang, tanah longsor, kebakaran hutan, tsunami atau ke-keringan seolah-olah sudah menjadi fenomena tahunan yang kerap terjadi. Sementara itu, perburuan satwa liar dan illegal loging nyaris tak pernah luput dari agenda para perusak lingkungan. Ironis, kita seolah-olah menutup mata bahwa ulah manusia yang bertindak sewenang-wenang dalam memperlakukan lingkungan hidup bisa menjadi ancaman yang terus mengintai setiap saat.

Meminjam istilah Garret Hardin (1968), inilah yang disebut the tragedy of commons, akibat kegagalan manusia dalam memelihara milik bersama. Kegagalan mengapresiasi sumber daya serentak juga akan melahirkan eksternalitas negatif. Ekses-ekses buruk dapat disebabkan oleh perilaku pihak luar dan tanpa disadari berpengaruh terhadap kehidupan komunitas lain. Ketidakmampuan Indonesia mencegah pembalakan hutan misalnya, akan berimbas negatif kepada rakyat negara ini dan juga generasi yang akan datang. Lalu, bagaimana melakukan "revolusi" demi perbaikan mindset masyarakat agar mencintai lingkungan? Ya, kembali ke laptop, alias ke pendidikan.

Read More

Teaching English Technique: Pause & predict – YouTube technique

syamsul ma'arif Rabu, Juni 15, 2011 | ,

Submitted by Nicola Crowley on http://www.teachingenglish.org.uk
            This YouTube activity is quite simple and can be used with a variety of YouTube videos especially those from Mr. Bean. This clip is a great introduction to the theme of travel and can help students practise prediction e.g. ‘I think he’ll pack his teddy bear’ or ‘ He’s definitely going to forget his suitcase’.
Preparation
  • Open the YouTube video Mr Bean ‘Packing for a Holiday' (www.youtube.com/watch?v=6r0dr_juOiI) and make sure it is ready to play.
  • You will need post-it notes for the students’ predictions. Alternatively, the students can write their prediction in their notebooks.
Read More

Pendidikan Karakter

syamsul ma'arif Minggu, Mei 08, 2011 | ,


Pencetus pendidikan karakter yang menekankan dimensi etis-spiritual dalam proses pembentukan pribadi ialah pedagog Jerman FW Foerster (1869-1966). Pendidikan karakter merupakan reaksi atas kejumudan pedagogi natural Rousseauian dan instrumentalisme pedagogis Deweyan.
Lebih dari itu, pedagogi puerocentris lewat perayaan atas spontanitas anak-anak (Edouard Claparède, Ovide Decroly, Maria Montessori) yang mewarnai Eropa dan Amerika Serikat awal abad ke-19 kian dianggap tak mencukupi lagi bagi formasi intelektual dan kultural seorang pribadi.
Polemik anti-positivis dan anti-naturalis di Eropa awal abad ke-19 merupakan gerakan pembebasan dari determinisme natural menuju dimensi spiritual, bergerak dari formasi personal dengan pendekatan psiko-sosial menuju cita-cita humanisme yang lebih integral. Pendidikan karakter merupakan sebuah usaha untuk menghidupkan kembali pedagogi ideal-spiritual yang sempat hilang diterjang gelombang positivisme ala Comte.
Tujuan pendidikan adalah untuk pembentukan karakter yang terwujud dalam kesatuan esensial si subyek dengan perilaku dan sikap hidup yang dimilikinya. Bagi Foerster, karakter merupakan sesuatu yang mengualifikasi seorang pribadi. Karakter menjadi identitas yang mengatasi pengalaman kontingen yang selalu berubah. Dari kematangan karakter inilah, kualitas seorang pribadi diukur.
Read More